Jumat, 27 Februari 2026 12:17

Sementara itu, salah seorang warga terdampak, Aan Yuliana, menuturkan banjir mulai terjadi sekitar pukul 16.00 WIB saat debit air tiba-tiba meningkat, meski hujan di sekitar permukiman tidak terlalu deras.

“Jam empat sore air sudah mulai ngalir deras dari arah atas. Hujannya di sini sedikit, tapi air dari atas besar sekali,” ujar Aan.

Ia mengatakan sedikitnya 11 rumah terendam banjir, dengan ketinggian air bervariasi mulai dari selutut hingga sepinggang orang dewasa.

“Ada yang setinggi lutut, ada juga yang sampai perut bahkan pinggang. Air langsung masuk ke rumah-rumah,” katanya.

Menurut Aan, banjir berlangsung cukup lama dan baru mulai surut pada malam hari sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB. Warga kemudian harus berjibaku membersihkan lumpur dan sisa material yang terbawa banjir.

“Jam sembilan malam masih bersih-bersih, belum beres. Baru benar-benar surut malam,” ungkapnya.

Akibat banjir, warga mengalami kerugian material. Sejumlah perabot rumah tangga, pakaian, sepeda motor, hingga peralatan elektronik terendam air.

“Motor banyak yang kena, kulkas juga ada. Baju-baju terendam semua,” ucapnya.

Aan menyebut banjir bukan kali pertama terjadi di wilayah tersebut. Namun, kejadian kali ini dinilai paling parah dibandingkan peristiwa serupa sebelumnya.

“Kalau yang sekarang mah parah. Dulu pernah, tapi enggak separah sekarang,” ujarnya.

Hingga kini, warga masih diliputi kekhawatiran akan adanya banjir susulan, terutama jika hujan kembali turun di wilayah hulu.

“Takutnya ada air susulan lagi dari atas,” katanya.

Warga berharap pemerintah segera melakukan penanganan permanen agar banjir tidak terus berulang dan memberikan rasa aman bagi masyarakat di bantaran Sungai Cipaganti.

“Harapannya dibenerin yang permanen, supaya kejadian kayak gini enggak terulang lagi,” pungkasnya.

1 2
Exit mobile version