ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Peringatan Hari Ibu di Indonesia memiliki makna yang jauh berbeda dengan Mother’s Day yang dikenal di sejumlah negara Barat.
Hari Ibu tidak dimaknai semata sebagai penghormatan atas peran domestik perempuan, melainkan sebagai pengakuan terhadap martabat, peran, dan kesetaraan perempuan Indonesia dalam kehidupan sosial, pendidikan, hingga pembangunan bangsa.
Makna tersebut menegaskan bahwa perempuan Indonesia dari berbagai latar budaya seperti Jawa, Sunda, Batak, hingga Bali hadir sebagai mitra sejajar laki-laki, bukan berada di belakang ataupun di depan.
ADVERTISEMENT
Terkenal Tegas, Yudai Yamamoto Akan Pimpin Laga Persib Bandung vs PSM Makassar
“Peringatan Hari Ibu itu bukan soal perempuan harus masak atau beberes. Ini tentang perempuan Indonesia yang siap bergandengan tangan dengan pria, sejajar,” ujar politisi senior Jawa Barat, Ceu Popong Otje Djundjunan, dalam forum Mieling Raden Dewi Sartika di Bandung.
Dalam konteks sejarah perjuangan perempuan, Raden Dewi Sartika disebut sebagai simbol nyata emansipasi berbasis aksi. Dewi Sartika tidak hanya menghadirkan gagasan tentang kesetaraan, tetapi juga mewujudkannya melalui pendirian Sakola Istri di Jalan Keutamaan Istri, Bandung sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia. Atas perjuangannya, Dewi Sartika kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Ceu Popong menilai Dewi Sartika sebagai sosok perempuan bersahaja yang melampaui zamannya. Ia berani mengambil langkah konkret untuk membuka akses pendidikan bagi perempuan, di tengah keterbatasan dan norma sosial yang membelenggu perempuan pada masa itu.
Lebih jauh, Ceu Popong mengajak perempuan Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui budaya membaca dan memperluas wawasan. Menurutnya, keselarasan dalam menjalani kehidupan harus berlandaskan prinsip 5A, yakni afiat (sehat), agama, akhlak, amal, dan akal sehat.
Selain itu, budaya belajar sepanjang hayat perlu ditanamkan melalui prinsip 4B: banyak membaca, banyak melihat, banyak mendengar, dan banyak bertanya. Prinsip tersebut dinilai penting agar perempuan mampu berkontribusi lebih luas bagi masyarakat dan bangsanya.
Ia mengibaratkan otak manusia seperti pisau yang harus terus diasah agar tetap tajam. Mengasah otak, kata dia, dapat dilakukan dengan membaca, berpikir kritis, hingga mengerjakan aktivitas sederhana seperti teka-teki silang.
“Otak itu ibarat pisau. Kalau tidak diasah, akan tumpul,” ujarnya.
Menutup pandangannya, Ceu Popong menegaskan bahwa semangat perjuangan Dewi Sartika harus diwujudkan dalam etos kerja yang kuat, yakni kerja cerdas, kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja tuntas, sebagai bekal perempuan Indonesia menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






