KORANMANDALA.COM – Politikus senior Jawa Barat, Ceu Popong Otje Djundjunan, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menumbuhkan rasa bangga sebagai wanoja Sunda dengan meneladani perjuangan Raden Dewi Sartika, pelopor pendidikan perempuan di Tanah Sunda.
Ceu Popong menegaskan, kebanggaan terhadap identitas dan sejarah perempuan Sunda bukanlah bentuk kesombongan, melainkan wujud penghargaan dan rasa syukur atas warisan pemikiran maju yang telah lahir jauh sebelum masa kemerdekaan.
“Bukan kita harus sombong, tapi kita harus bangga, reueus ceuk basa Sunda. Bayangkan, pada zamannya sudah ada wanoja Sunda yang berpikiran sangat progresif dan berani mendirikan sekolah khusus perempuan,” ujar Ceu Popong.
Mieling Dewi Sartika, Semangat Literasi Sunda dan Pendidikan Perempuan Terus Digelorakan
Menurutnya, Dewi Sartika memiliki posisi istimewa dalam sejarah karena tidak berhenti pada gagasan, tetapi mampu mewujudkannya dalam tindakan nyata melalui pendirian lembaga pendidikan. Langkah tersebut dinilai sebagai terobosan besar di tengah budaya patriarki yang masih kuat pada masa itu.
“Banyak orang punya pemikiran, tapi tidak semua mampu merealisasikannya. Dewi Sartika membuktikan bahwa perempuan Sunda punya keberanian dan visi jauh ke depan,” katanya.
Dalam refleksinya, Ceu Popong juga mengingatkan bahwa peran perempuan Sunda dalam dunia pendidikan tidak hanya diwakili oleh Dewi Sartika. Jauh sebelumnya, terdapat tokoh perempuan lain, Lasminingrat, yang telah lebih dulu membuka jalan melalui pendidikan nonformal.
“Jauh sebelum Dewi Sartika dan Kartini, sudah ada wanoja Sunda bernama Lasminingrat. Beliau mengajarkan baca-tulis, berhitung, dan bahasa Belanda kepada perempuan, meskipun belum dalam bentuk sekolah formal,” ungkapnya.
Ia menilai, peran Lasminingrat kerap luput dari perhatian sejarah arus utama, padahal kontribusinya sangat penting dalam membangun fondasi literasi perempuan di Tanah Sunda.
Menutup pernyataannya, Ceu Popong menekankan bahwa menghormati jasa para tokoh perempuan tidak cukup dilakukan melalui peringatan seremonial semata. Menurutnya, penghargaan sejati justru tercermin dari sikap dan karakter generasi penerus.
“Kalau ingin menghargai para pendahulu, tekadkan diri menjadi manusia yang cager, bager, bener, pinter, ditambah singer, tenang, jeung ludeng. Di situlah cara kita meneruskan perjuangan mereka,” pungkasnya.
