Jumat, 27 Februari 2026 6:53

KORANMANDALA.COM Seminar dan penganugerahan Lomba Esai Berbahasa Sunda menjadi puncak rangkaian kegiatan Mieling Raden yang diselenggarakan oleh Kadamas Kota . Kegiatan ini digelar pada Jumat, 26 Desember 2025.

Acara tersebut tidak hanya menjadi ajang apresiasi bagi pelajar tingkat SMP dan SMA, tetapi juga ruang untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan Raden Dewi Sartika melalui literasi, diskusi intelektual, serta penggunaan bahasa Sunda sebagai medium berpikir dan berekspresi.

Ketua Pelaksana Mieling Raden Dewi Sartika, Keke, yang merupakan anggota Kadamas angkatan 1989, menjelaskan bahwa seminar mengusung tema “Manifestasi Sumanget Raden Dewi Sartika Ngawangun Insan Unggul.”

Prediksi Pertandingan Persib Bandung vs PSM Makassar : Juku Eja Korban Persib Berikutnya ?

“Seminar ini merupakan rangkaian dari kegiatan Mieling Raden Dewi Sartika. Dimulai dari kegiatan beberesih Monumen Dewi Sartika, pembukaan lomba esai berbahasa Sunda, hingga hari ini sebagai puncaknya dengan pengumuman juara dan seminar,” ujar Keke.

Ia mengungkapkan, antusiasme peserta lomba esai berbahasa Sunda terbilang tinggi dan melampaui ekspektasi panitia.

“Alhamdulillah, lomba esai ini diikuti oleh 44 peserta dari berbagai daerah, seperti Kota Bandung, Cimahi, Depok, Bandung Barat, Tasikmalaya, hingga Garut. Menulis esai dalam bahasa Sunda bukan hal yang mudah, sehingga ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” katanya.

Menurut Keke, Raden Dewi Sartika bukan sekadar tokoh perempuan dalam sejarah, melainkan simbol perjuangan pendidikan yang menanamkan nilai ilmu pengetahuan, etika, dan kemandirian.

“Semangat Dewi Sartika masih sangat relevan hingga hari ini. Tidak hanya bagi perempuan, tetapi juga bagi laki-laki, bahwa pendidikan harus mampu membentuk karakter dan martabat manusia,” tegasnya.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan Kadamas lintas angkatan. Pemateri pertama, Nenden, anggota Damas angkatan 1972, menyampaikan materi bertajuk “Manifestasi Semangat Raden Dewi Sartika dalam Membangun Insan Unggul Menuju Indonesia Emas 2045.”

Dalam pemaparannya, Nenden menekankan pentingnya pendidikan holistik dan pembentukan karakter sebagai fondasi kemajuan bangsa.

“Semangat Raden Dewi Sartika adalah semangat memajukan pendidikan perempuan sesuai hakikat tuntutan ilahi, dengan menekankan pendidikan holistik dan karakter yang berlandaskan nilai ketuhanan, intelektual yang kuat, serta keseimbangan cageur, bageur, pinter,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keteladanan Dewi Sartika yang tetap berjuang di tengah tantangan sosial dan keterbatasan finansial.

“Dewi Sartika menghadapi pandangan skeptis masyarakat yang menganggap pendidikan bukan urusan perempuan, serta kendala finansial akibat penyitaan harta keluarga oleh pemerintah kolonial. Namun dari situ lahir teladan bahwa perempuan mampu menjadi agen perubahan,” ungkap Nenden.

Pemateri berikutnya, Keri Lestari, anggota Damas angkatan 1987, mengangkat tema “Dari Pecahan Genting ke Generasi Gemilang: Memaknai Kembali Semangat Raden Dewi Sartika dalam Membangun Insan Unggul Abad ke-21.”

Keri menuturkan kisah simbolik genting dan arang yang digunakan Raden Dewi Sartika sebagai alat menulis di lantai, sebagai refleksi bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk memulai perubahan besar.

“Genting dan arang mengajarkan bahwa untuk berdampak tidak selalu harus bersiap secara sempurna. Dari situlah revolusi pendidikan dimulai. Dewi Sartika tidak banyak bicara, ia bekerja,” ujarnya.

Menurut Keri, semangat Dewi Sartika dapat dirangkum dalam tiga prinsip pendidikan transformatif, yakni pendidikan sebagai pembebasan dan pemberdayaan, pendidikan yang kontekstual dan berdampak langsung, serta keteladanan dan keberanian untuk memulai dari hal sederhana.

“Bermanfaat itu tidak harus menunggu sempurna. Inilah spirit semangat untuk berdampak, khususnya bagi perempuan pribumi, agar pendidikan benar-benar menjadi jalan perubahan,” pungkasnya.

Exit mobile version