Kamis, 26 Februari 2026 18:00

KORANMANDALA.COM –Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menjadikan riset sebagai fondasi utama dalam perumusan kebijakan pembangunan. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara Pemprov Jabar dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang difokuskan pada penguatan riset daerah, ketahanan pangan, serta mitigasi bencana berbasis lingkungan, Rabu (24/12/2025).

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, visi Gubernur Jawa Barat yang menempatkan isu keberlanjutan sebagai prioritas pembangunan menjadi dasar kuat terjalinnya kolaborasi tersebut.

Menurut Arif, pendekatan pembangunan berbasis riset, khususnya dalam mitigasi bencana, jauh lebih efisien dibandingkan penanganan pascabencana.

Mengejutkan, Persib Bandung Akan Datangkan Pemain Asing Dari Liga Top 5 Eropa?

“Biaya untuk mengantisipasi bencana jauh lebih rendah dibandingkan biaya mengatasi dampaknya. Karena itu, pendekatan nature based solutions menjadi penting, dengan menjadikan alam sebagai rujukan utama dalam pengelolaan wilayah,” ujar Arif.

Salah satu fokus konkret kerja sama ini adalah pengembangan varietas unggul padi yang tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga selaras dengan karakter dan budaya masyarakat Jawa Barat.

BRIN bersama Pemprov Jabar akan melakukan uji kecocokan berbagai varietas padi, termasuk yang dikembangkan oleh perguruan tinggi di Jawa Barat, agar hasil panen sesuai dengan preferensi masyarakat.

“Masyarakat Jawa Barat terbiasa mengonsumsi nasi pulen. Ada varietas dengan produksi tinggi, tetapi teksturnya tidak pulen. Di sinilah riset menjadi penting, agar yang kita tanam benar-benar diterima masyarakat,” kata Arif.

Dalam kerja sama tersebut, BRIN dan Pemprov Jabar menyepakati 48 kegiatan kolaborasi, mulai dari pengembangan depot benih, perbanyakan varietas unggul, hingga peningkatan produktivitas pertanian dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat menegaskan, lemahnya riset selama ini menjadi salah satu penyebab kebijakan pembangunan tidak berkelanjutan dan kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Penelitian adalah sebuah keharusan. Jawa Barat berkomitmen menjadikan riset sebagai dasar utama dalam setiap pengambilan keputusan pembangunan,” tegas Dedi.

Ia menyebutkan, manfaat kerja sama ini akan segera dirasakan masyarakat, khususnya di sektor pertanian. Benih padi hasil riset BRIN akan mulai disemai melalui demplot dan ditargetkan dapat digunakan petani pada musim tanam kedua tahun ini.

Dedi optimistis produktivitas padi di Jawa Barat yang saat ini rata-rata 4–5 ton per hektare dapat meningkat secara merata.

“Kita tidak bicara 12 ton per hektare. Kalau bisa 7 ton per hektare tetapi merata, itu sudah luar biasa bagi Jawa Barat,” pungkasnya.

Exit mobile version