Kamis, 26 Februari 2026 15:29

KORANMANDALA.COMPengungkapan kasus kekerasan terhadap perempuan di Kota menunjukkan tren peningkatan. Namun, peningkatan tersebut bukan semata-mata mencerminkan bertambahnya tindak kekerasan, melainkan meningkatnya kesadaran dan keberanian masyarakat untuk melaporkan kasus yang dialami maupun diketahui.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bandung, Uum Sumiati, menyebut edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah mulai membuahkan hasil. Masyarakat kini semakin memahami bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan persoalan pribadi yang harus disembunyikan, melainkan pelanggaran yang wajib dilaporkan agar korban memperoleh perlindungan dan penanganan yang layak.

“Di Bandung, karena edukasi terus dilakukan, masyarakat mulai paham, mulai berani, dan mau melaporkan jika terjadi kekerasan terhadap perempuan,” kata Uum Sumiati, Senin (22/12/2025).

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Karawang Capai 111 Laporan hingga September 2025

Ia menjelaskan, pada masa sebelumnya banyak korban memilih diam dan memendam kekerasan yang dialaminya selama bertahun-tahun. Rasa takut, malu, hingga ketidaktahuan mengenai mekanisme pelaporan menjadi penghambat utama.

“Dulu, kekerasan bisa terjadi dua sampai tiga tahun tapi korban tetap memendam. Ada yang takut, ada yang malu, dan ada juga yang tidak tahu harus melapor ke mana,” ucapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut kini mulai berubah. Perempuan korban kekerasan, termasuk orang tua dari anak-anak korban, semakin berani melapor. Hal ini dinilai sebagai perkembangan positif karena memungkinkan penanganan dilakukan lebih cepat dan menyeluruh.

“Dengan adanya laporan, penanganan bisa dilakukan secara komprehensif, mulai dari pendampingan psikologis, bantuan hukum, hingga perlindungan bagi korban,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti isu perempuan dari sisi yang lebih luas, khususnya ketenagakerjaan dan pemberdayaan ekonomi. Ia mengakui jumlah perempuan yang bekerja masih lebih rendah dibandingkan laki-laki, salah satunya dipengaruhi faktor budaya.

“Jumlah perempuan yang bekerja memang belum sebanyak laki-laki. Itu masih menjadi tantangan yang dipengaruhi oleh budaya,” ujar Farhan.

Meski demikian, Pemkot Bandung terus mendorong peningkatan produktivitas dan kemandirian ekonomi perempuan melalui berbagai program. Salah satu fokus utama adalah penguatan kewirausahaan sebagai jalan pemberdayaan.

“Kami percaya perempuan yang berdaya secara ekonomi akan memberikan dampak besar bagi penguatan keluarga dan masa depan anak-anak,” tegasnya.

KoranMandala.com

Exit mobile version