Sementara itu, Head of Public Policy and Government Relations TikTok Indonesia, Hilmi Adriantio, menyampaikan bahwa TikTok hadir sebagai ruang kreativitas dan hiburan dengan misi memberi inspirasi dan kebahagiaan bagi penggunanya.
“Di Indonesia, TikTok digunakan oleh lebih dari 160 juta pengguna setiap bulan. Mereka memanfaatkan platform ini untuk berekspresi, belajar, mengembangkan usaha, hingga menemukan hobi,” kata Hilmi.
Dengan basis pengguna yang besar, TikTok menempatkan keselamatan remaja sebagai prioritas utama.
“Remaja adalah fondasi tumbuhnya para kreator. Karena itu, keamanan mereka menjadi tanggung jawab besar bagi kami,” ujarnya.
Hilmi menjelaskan, TikTok terus memperkuat fitur keamanan dan program literasi digital, baik bagi remaja, orang tua, maupun pemangku kepentingan. Fitur tersebut antara lain Panduan Komunitas, Family Pairing untuk menghubungkan akun orang tua dan anak, serta kebijakan batas usia yang ketat.
Selain itu, TikTok juga bekerja sama dengan Sejiwa Foundation dan Yayasan Keluarga Kita melalui berbagai program edukasi, baik secara daring maupun luring.
“Pada 2024 kami melibatkan lebih dari 600 orang tua, remaja, dan guru. Tahun 2025 meningkat menjadi lebih dari 1.000 peserta, bahkan lebih dari 6.000 orang tua di enam wilayah Indonesia ikut serta dalam rangkaian edukasi,” ungkap Hilmi.
Ia menegaskan, hasil dari berbagai program tersebut menunjukkan bahwa remaja masih sangat membutuhkan pendampingan orang tua dalam menjalani kehidupan digital.
“Peran keluarga sangat krusial. Karena itu, kami bersinergi dengan Pemkot Bandung dan Kemenkodigi untuk mendukung sosialisasi PP Tunas dan mewujudkan ruang digital yang lebih aman bagi generasi muda,” tandasnya.
