Kamis, 26 Februari 2026 20:32

KORANMANDALA.COMDi tengah polemik dan sorotan publik terkait dugaan dampak lingkungan kawasan wisata Arunika, pimpinan DPRD Kabupaten melakukan peninjauan langsung ke Arboretum Arunika, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Jumat (19/12/2025).

Peninjauan ini melibatkan Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy bersama unsur pimpinan DPRD serta anggota Komisi I, II, III, dan IV. DPRD mengklaim kunjungan lapangan tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran faktual sebelum mengambil sikap resmi atau mengeluarkan rekomendasi terkait isu lingkungan yang berkembang.

Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy menyebut DPRD belum menarik kesimpulan atas dugaan dampak lingkungan kawasan tersebut. Menurutnya, DPRD masih menunggu hasil kajian yang lebih komprehensif.

Berada di tim Sejak 2016, Pemain Lincah Ini Dikabarkan Akan Dipinjamkan Persib

“Kami ingin memastikan bahwa informasi yang beredar di masyarakat diuji dengan fakta di lapangan. DPRD belum mengambil kesimpulan apa pun, khususnya terkait dampak lingkungan,” kata Nuzul di sela peninjauan.

Namun demikian, DPRD mencatat adanya klaim dari pengelola terkait upaya pelestarian lingkungan, salah satunya melalui penyediaan ribuan bibit pohon yang direncanakan ditanam di kawasan arboretum. Klaim tersebut, kata Nuzul, masih perlu diverifikasi lebih lanjut.

“Penyediaan bibit merupakan langkah awal, tetapi itu belum cukup untuk menjawab seluruh kekhawatiran publik. DPRD meminta dokumen feasibility study atau studi kelayakan untuk dikaji, termasuk aspek lingkungan dan tata ruang,” ujarnya.

DPRD juga menyoroti pembangunan akses jalan di kawasan Arunika yang dinilai berpotensi berdampak pada fungsi ekologis, khususnya daya resap air. Nuzul menegaskan, pembangunan infrastruktur di kawasan wisata seharusnya tidak mengorbankan prinsip keberlanjutan lingkungan.

“Setiap pembangunan harus memperhatikan daya dukung lingkungan. Kami mengingatkan agar akses jalan tidak menutup area resapan air dan dibangun dengan konsep ramah lingkungan,” katanya.

Sementara itu, pengelola Arboretum Arunika, Maryoto, menyatakan kawasan tersebut dikembangkan sebagai pusat koleksi tumbuhan khas Kabupaten Kuningan, termasuk jenis tanaman lokal yang berasal dari dalam dan sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

Ia mengklaim arboretum dirancang untuk fungsi konservasi, dengan menanam berbagai tanaman pionir yang memiliki keterkaitan historis dan kultural dengan wilayah Kuningan, seperti limus, aren, turi, dan picung, termasuk bibit pohon gaharu.

Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan terbuka mengenai hasil kajian lingkungan hidup, perizinan, maupun analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang menjadi salah satu tuntutan utama masyarakat dalam polemik kawasan Arunika. (Hendra Purnama)

Koranmandala.com

Exit mobile version