ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Di balik citra Teras Cihampelas sebagai ruang publik ikonik Kota Bandung, tersimpan realita yang jauh dari kata aman. Kawasan yang seharusnya menjadi tempat rekreasi warga itu justru ramai disalahgunakan pada malam hingga dini hari, sementara pengawasan nyaris tak terasa.
Linda (52), pedagang di kawasan Teras Cihampelas, mengungkapkan aktivitas mencurigakan di area tersebut bukanlah kejadian baru. Menurutnya, hampir setiap hari Teras Cihampelas menjadi tempat nongkrong anak-anak muda dari tengah malam hingga pagi.
“Iya, sering dipakai nongkrong anak muda. Hampir tiap hari, dari tengah malam sampai pagi,” kata Linda saat dikonfirmasi, Rabu (17/12/2025).
ADVERTISEMENT
Nasib Teras Cihampelas, Dulu Magnet Wisata, Kini Jadi Ruang Kosong
Ia menjelaskan, keramaian biasanya mulai terasa sejak malam hari hingga dini hari.
“Kalau rame itu sore sampai malam, sekitar jam 8 malam sampai jam 3 pagi,” katanya.
Sementara pada siang hari, aktivitas relatif sepi hanya diisi oleh anak muda yang bermain skateboard. Namun hal itu pun langka.
“Siang paling ada anak-anak main skateboard, tapi jarang,” tambahnya.
Linda juga mengungkapkan adanya aktivitas yang dinilai melenceng jauh dari fungsi ruang publik. Ia mengaku kerap melihat anak-anak sekolah bolos, pesta minuman keras, hingga dugaan perbuatan asusila.
“Sering lihat anak sekolah mabal, mabok. Terus di arah skywalk pernah ada yang bikin tenda, di dalamnya ada kasur. Nah, di situ pernah kejadian mesum,” ungkapnya.
Linda bahkan menyebut pernah terjadi kasus yang lebih serius dan mengkhawatirkan dari sekedar anak sekolah bolos dan pesta minuman keras di area tersebut.
“Pernah juga ada kejadian anak SD memperkosa anak yang belum sekolah,” ucapnya.
Menurutnya, peristiwa tersebut sudah beberapa kali terjadi. “Bukan, ini sudah sering terjadi,” tegasnya.
Sebagai pedagang yang hampir setiap hari berada di lokasi, Linda mengaku kerap memantau kondisi sekitar. Namun ia menyadari keterbatasannya sebagai warga biasa.
“Saya sering mantau. Tapi saya juga bingung harus ngadu ke siapa. Saya kan nggak bisa apa-apa, paling cuma ngontrol sebisanya,” ujarnya.
Linda berharap pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap kondisi tersebut. Ia menegaskan perlunya pengawasan serius dan kehadiran petugas secara rutin, terutama di jam-jam rawan.
“Harus ada pengawasan, harus ada yang jaga. Minimal di daerah situ ada petugas,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






