ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Tim dosen Telkom University melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2025.
Program ini difokuskan pada penanganan permasalahan sampah anorganik di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.
Melalui kegiatan tersebut, tim Abdimas Telkom University berhasil mengolah abu sisa pembakaran sampah anorganik menjadi material bangunan non-struktural berupa roster. Kegiatan dilaksanakan di TPS3R Lembangsari, fasilitas pengolahan sampah berbasis Reduce, Reuse, Recycle (3R) yang setiap pekan menerima sekitar 485 kilogram sampah, dengan 135 kilogram di antaranya merupakan sampah anorganik.
ADVERTISEMENT
Konsumsi Minuman Manis Tertinggi, Wali Kota Bandung Tekankan Kebijakan Harus Berbasis Data BPS
Sampah anorganik sebelumnya dimusnahkan menggunakan mesin Tel-Urator, teknologi pembakaran ramah lingkungan hasil pengembangan Telkom University.
Namun, proses tersebut masih menyisakan sekitar 10–15 persen abu pembakaran yang belum termanfaatkan dan berpotensi mencemari lingkungan.
Menjawab persoalan tersebut, tim Abdimas yang diketuai oleh Dr. Fajar Ciptandi, bersama anggota Dr. Ira Wirasari dan Dr. Ayub Ilfandy Imran, menginisiasi riset terapan untuk mengolah abu sisa pembakaran menjadi bahan bangunan alternatif.
Abu dicampur dengan pasir dan semen dalam komposisi tertentu hingga menghasilkan material yang memiliki kekuatan dan stabilitas yang layak untuk produk non-struktural.
“Selama ini abu sisa pembakaran dianggap tidak bernilai dan dibuang ke lingkungan. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, material ini masih memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali,” ujar Dr. Fajar Ciptandi.
Dari proses tersebut, tim berhasil memproduksi roster berukuran standar 20 x 20 sentimeter yang dapat berfungsi sebagai elemen dinding non-struktural sekaligus ventilasi bangunan.
Produk yang dihasilkan dinilai memiliki kualitas yang sebanding dengan roster komersial yang beredar di pasaran.
Selain inovasi material, kegiatan ini juga menerapkan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA) dengan melibatkan secara aktif masyarakat pengelola TPS3R. Keterlibatan dilakukan melalui workshop, pelatihan, dan pendampingan intensif mulai dari pemilahan abu, pencampuran material, pencetakan, hingga evaluasi kualitas produk.
Hasilnya, dalam waktu dua pekan masyarakat bersama tim Abdimas mampu memproduksi ratusan unit roster dengan kualitas yang konsisten.
Program ini tidak hanya berdampak pada pengurangan pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang kemandirian masyarakat dalam memproduksi bahan bangunan alternatif berbasis limbah.
Ke depan, inovasi ini berpotensi dikembangkan sebagai unit usaha berbasis komunitas yang mendukung ekonomi lokal serta prinsip keberlanjutan.
Melalui kegiatan ini, Telkom University menegaskan komitmennya dalam menghadirkan solusi nyata atas persoalan lingkungan sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat melalui inovasi berbasis riset dan teknologi tepat guna.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






