Analis Ketahanan Pangan Ahli Madya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Ahmad Wahyudin, menyampaikan kemampuan produksi pangan di Kota Bandung masih terbatas. Akibatnya, sebagian besar kebutuhan masyarakat harus dipenuhi dari daerah-daerah sentra produksi.
“Untuk komoditas pangan, pasokannya berasal dari berbagai wilayah. Beras, misalnya, masih kita datangkan dari Cianjur, Indramayu, Subang, Garut, dan Tasikmalaya. Bahkan, sebagian juga berasal dari Jawa Tengah,” kata Ahmad Wahyudin.
Jelang Nataru Pemkot Bandung Pastikan Tak Ada Lonjakan Harga Pangan.
Selain beras, komoditas telur ayam juga masih didominasi pasokan dari luar daerah. Kabupaten Blitar menjadi pemasok utama karena kapasitas produksinya yang jauh lebih besar dibandingkan daerah lain yang lebih dekat dengan Bandung.
“Pasokan telur sebagian besar berasal dari Blitar karena volumenya paling besar. Dari wilayah sekitar seperti Majalaya memang ada, tetapi jumlahnya tidak sebanding dengan pasokan dari Blitar,” jelasnya.
Ahmad menambahkan, tantangan lain yang dihadapi adalah perbedaan harga antar pasar di Kota Bandung. Variasi harga ini membuat pelaksanaan program stabilisasi pangan harus direncanakan secara matang dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
“Setiap pasar memiliki dinamika harga yang berbeda. Karena itu, penentuan lokasi dan waktu kegiatan stabilisasi pangan selalu mengacu pada arahan pimpinan agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran,” pungkasnya.