ADVERTISEMENT
“Seiring waktu, beton penahan runtuh dan akar menggantung. Begitu akar terpapar, kekuatannya sangat rapuh. Saya menyaksikan sendiri pohon tumbang tiba-tiba di Kiaracondong saat hujan,” ungkap Farhan.
Di sektor kesehatan, Farhan mengingatkan potensi peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) pada periode 2026–2028 seiring siklus tiga tahunan. Meski pada 2025 tidak tercatat korban jiwa, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan.
Ia meminta petugas lapangan dan masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan ke puskesmas apabila demam tidak turun dalam waktu 24 jam.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, terkait persoalan sampah, Farhan menyebut Kota Bandung saat ini memproduksi sekitar 1.498 ton sampah per hari. Namun, hanya sekitar 1.200 ton yang dapat diangkut ke TPA Sarimukti.
“Kita pernah mengalami penumpukan hingga 4.000 ton selama 20 hari pada November lalu. Bahkan, banyak truk harus mengantre sampai 36 jam di Sarimukti,” jelasnya.
Ia menambahkan, mulai pertengahan Januari 2026, kuota pembuangan ke TPA Sarimukti berpotensi berkurang menjadi sekitar 980 ton per hari, sehingga ancaman penumpukan sampah kembali terbuka.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Bandung tengah menyiapkan pengolahan sampah melalui biodigester dan insinerator berkapasitas 7–10 ton.
“Mulai 10 Januari, kita akan masuk fase kritis. Saya minta seluruh unsur TNI–Polri, kewilayahan, dan masyarakat ikut membantu agar penumpukan sampah tidak terulang,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT





