KORANMANDALA.COM – Fenomena fatherless yang kian mengemuka di Indonesia kembali menjadi sorotan. Di tengah kondisi keluarga yang berubah cepat dan meningkatnya tekanan sosial terhadap remaja, pemerintah menilai peran ayah tak lagi bisa dianggap sebagai pelengkap pengasuhan.
Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang digelar di Jawa Barat.
Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi, mengatakan bahwa absennya figur ayah baik secara fisik maupun emosional telah menjadi salah satu pemicu kerentanan remaja.
Antarkan Persib ke Babak 16 Besar, Ini Ungkapan Patricio Matricardi
Mengutip data UNICEF, ia menyebut lebih dari 20 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless, meski tinggal dalam satu rumah.
“Dampaknya nyata: rasa percaya diri menurun, stres meningkat, dan anak lebih mudah terpengaruh lingkungan negatif,” ujar Dadi pada Kamis, 11 Desember 2025.
Menurutnya, semakin banyak anak yang tumbuh tanpa pendampingan ayah membuat model pengasuhan di Indonesia perlu dievaluasi. Data internal BKKBN mencatat bahwa hanya 37 persen anak yang saat ini mendapat pengasuhan lengkap dari kedua orang tua.
Sementara itu, 33 persen remaja menghadapi masalah kesehatan mental, sebuah sinyal bahwa keluarga tak lagi cukup kuat menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang anak.
Di tengah situasi tersebut, GATI tahun ini mengangkat tema Gerakan Ayah Mengambil Rapot Anak ke Sekolah (GEMAR). Gerakan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Nomor 14 Tahun 2025 yang meminta seluruh kepala daerah menguatkan peran ayah dalam berbagai aktivitas pengasuhan.
“Ini bukan seremoni. GEMAR ingin menegaskan bahwa ayah memiliki kontribusi langsung dalam perkembangan anak, tidak berhenti pada urusan ekonomi,” tegas Dadi.
Ia menjelaskan, struktur keluarga modern menuntut ayah untuk lebih hadir secara emosional dan fisik. Mengantar anak sekolah, mendampingi belajar, hingga memantau kesehatan mental kini menjadi bagian penting dari peran ayah.
“Kehadiran figur ayah menghadirkan stabilitas emosional dan memperbaiki komunikasi keluarga,” katanya.
BKKBN Jawa Barat menilai GATI dan GEMAR bukan hanya program, melainkan dorongan perubahan budaya. Kedua inisiatif itu diarahkan untuk membangun model pengasuhan yang lebih setara dan kolaboratif antara ayah dan ibu.
