Asep juga meluruskan rencana pemerintah bukan penutupan terminal, melainkan peralihan fungsi layanan.
“Bukan penutupan, tapi peralihan moda. Dari yang semula melayani antar kota antar provinsi, menjadi layanan dalam kota,” jelasnya.
Ia mengungkapkan warga mengetahui isu ini dari media sosial, karena hingga kini belum ada sosialisasi resmi dari pemerintah kepada pengelola terminal.
“Belum ada sosialisasi resmi. Warga mempertanyakan kepada kami, padahal kami juga belum menerima informasi apa pun,” katanya.
Asep memahami keresahan warga karena rencana tersebut muncul mendekati momen Idulfitri, periode penting bagi penghasilan pedagang dan porter.
“Mereka takut kehilangan mata pencarian yang sudah bertahun-tahun mereka jalani. Apalagi akhir 2025 itu dekat Idulfitri,” jelasnya.
Ia mengimbau warga agar tidak terprovokasi kabar yang belum jelas, dan tetap menggunakan paguyuban terminal sebagai ruang berdialog.
“Paguyuban sudah terbentuk sejak dulu. Itu berjalan baik dan dapat membantu menyampaikan aspirasi teman-teman di sini,” pungkasnya.
