Jumat, 27 Februari 2026 3:45

KORANMANDALA.COM – Rencana pemerintah mengubah menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya kembali memantik penolakan dari para pedagang, sopir, hingga pekerja terminal. Mereka keberatan atas wacana pemindahan aktivitas AKAP dan AKDP ke Terminal Leuwipanjang apabila rencana tersebut dijalankan.

Berbagai spanduk bernada protes terpampang di sejumlah titik, mulai dari jembatan penyeberangan orang, kios, hingga area loket tiket. Spanduk-spanduk mencolok itu memuat pesan penolakan yang lugas.

“Kami Warga Terminal Cicaheum Menolak Keras Terminal Cicaheum Dipindahkan ” tulis Spanduk tersebut

Situasi Terkini Terminal Cicaheum Bandung Jelang Lebaran

Salah seorang pedagang, Ari, yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup di Terminal Cicaheum, mengatakan penolakan muncul dari hampir semua elemen yang selama ini menggantungkan rezeki di kawasan tersebut.

“Penolakan dataspang dari pedagang, sopir, pedagang asongan. Semuanya menolak keras dipindahkan,” kata Ari

Menurutnya, pemasangan spanduk bukan sekadar aksi spontan, melainkan bentuk aspirasi warga terminal yang khawatir kehilangan mata pencaharian. Meski begitu, Ari memastikan kondisi di sekitar terminal tetap kondusif.

Ia mengaku pendapatan para pedagang kini jauh menurun dibanding masa sebelum pandemi. Namun, kedekatan historis dan emosional membuat mereka tetap bertahan.

“Pendapatan memang tidak seperti dulu. Tapi kami sudah lama mencari rezeki di sini. Apalagi Cicaheum ini sudah ikonik, pernah jadi lokasi syuting juga. Sekarang juga mendekati Natal dan Tahun Baru, biasanya ada sedikit peningkatan,” ujarnya.

Ari juga menyebut Terminal Cicaheum bukan sekadar titik transit, tetapi denyut ekonomi yang menghidupi banyak keluarga. Saat ini, penghasilannya pun tak sampai Rp200 ribu per hari.

Ia mengaku isu pemindahan terminal sudah lama beredar, namun tak pernah benar-benar ditindaklanjuti.

“Info ini sudah sering terdengar sejak lama, tapi tidak pernah jelas. Sekarang ramai lagi,” ungkapnya.

Ari berharap pemerintah tidak memindahkan terminal, melainkan menghidupkan kembali transportasi umum agar aktivitas ekonomi di Cicaheum kembali pulih. Soal potensi aksi protes, ia menyebut hal tersebut masih akan dibahas bersama paguyuban.

“Kalau pemerintah tetap ngotot, soal demo atau tidaknya nanti dibicarakan lagi. Untuk saat ini situasinya masih aman,” ujarnya.

Penolakan juga disampaikan Roni, salah seorang pekerja PO bus di Cicaheum. Menurutnya, isu perubahan fungsi terminal sudah berembus sejak era Wali Kota Dada Rosada hingga Ridwan Kamil, namun tak pernah terealisasi.

“Kami menolak. Ini bukan hanya suara pribadi, tapi mewakili semua elemen masyarakat di Terminal Cicaheum,” tegasnya.

Ia pun menyayangkan pemerintah yang belum memberi penjelasan langsung kepada para pekerja terdampak.

“Pemerintah harus menganalisa ulang rencana ini,” ujarnya.

Roni menambahkan, warga terminal sebenarnya lebih membutuhkan revitalisasi, bukan pemindahan. Baginya, pembenahan fasilitas akan lebih tepat untuk mengatasi kesan kumuh sekaligus menghidupkan kembali aktivitas terminal.

KoranMandala.com

Exit mobile version