Kamis, 26 Februari 2026 13:45

Asep mengaku sempat mengungsi ke rumah kakaknya di . Selama berlangsung, ia tidak dapat bekerja selama dua hari karena akses jalan buntu dan area sekitar rumah terendam.

“Jadi enggak bisa kerja. Rugilah, apalagi kan operasional juga jalan,” katanya.

Menurutnya, selain merusak barang-barang elektronik dan perabotan, banjir membuat warga harus kembali menata ulang rumah dari awal. Ia menilai kolam retensi yang sebelumnya efektif menahan luapan air selama hampir lima tahun terakhir, kini tidak lagi mampu menahan debit air yang melonjak drastis.

“Kemarin-kemarin mah efektif. Tapi sekarang langsung gede lagi, kayak lima tahun yang lalu,” ujarnya.

Saat ini proses penyedotan air mulai dilakukan di bagian belakang permukiman. Namun warga berharap langkah penanganan menyeluruh segera dilakukan, mengingat luapan air masih tinggi di wilayah tetangga seperti Dayeuhkolot.

“Di sana mah masih tinggi,” ucap Cecep.

Baik Cecep maupun Asep berharap pemerintah dapat mengambil langkah yang lebih serius untuk mengatasi banjir jangka panjang, agar warga tidak terus dihantui ancaman serupa setiap musim hujan tiba.

“Harapannya mah ada solusi. Soalnya kalau begini terus ya kasihan masyarakat,” tutup Cecep.

1 2
Exit mobile version