Daerah

Perkebunan Teh Cisaruni Papandayan Terancam Punah, Petani Minta Pertolongan ke Gubernur Jabar

KORANMANDALA.COM – Perkebunan Teh Cisaruni Papandayan di Garut, yang memiliki luas sekitar 5.039 hektare dan terletak di antara Gunung Papandayan serta Gunung Cikuray, merupakan salah satu penghasil teh hitam berkualitas tinggi sejak era kolonial Belanda.

Hingga kini, sebagian hasil produksinya masih diekspor ke Malaysia dan sejumlah negara Eropa. Catatan sejarah menyebutkan, perkebunan ini pernah mengekspor hingga 12 ton teh hitam dalam satu kali pengiriman.

Perkebunan ini didirikan oleh Karel Frederik Holle, tokoh agrikultur pada masa Hindia Belanda yang juga mengajarkan teknik budidaya teh kepada para petani lokal.

ADVERTISEMENT

Prediksi Skor dan Jalannya Pertandingan Persib Bandung vs Borneo FC

Holle diketahui melakukan riset mengenai jenis tanaman yang cocok dibudidayakan di wilayah Garut. Peninggalannya kini masih berfungsi dan dikelola oleh PTPN VIII, salah satu perusahaan perkebunan terbesar di Indonesia.

Namun, keberlangsungan perkebunan teh tersebut kini terancam. Dalam unggahan video yang beredar di media sosial TikTok, sejumlah petani menyampaikan keluhan dan permohonan pertolongan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi menyusul maraknya perusakan tanaman teh di area perkebunan.

Dalam video tersebut, seorang petani perempuan tampak menangis sambil memohon bantuan.

“Pak Dedi, tolong Pak Dedi. Ini kebun teh Cisaruni dirusak. Saya harus kerja ke mana lagi? Kalau kebun teh ini tidak ada yang mengurus, akan habis,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kerusakan telah berlangsung bertahun-tahun.
“Tahun 2020 kebun teh ini mulai dirusaknya. Sekarang kebun tehnya sisa sedikit lagi. Cik, Pak Dedi… Bapak aing. Tolongi saya, Pak Dedi,” keluhnya.

Seorang petani laki-laki lainnya terlihat berteriak penuh emosi, meminta pemerintah turun tangan.

“Ini, Pak Dedi. Saya dituntut produksi dari atas, tapi mau bagaimana? Tehnya habis digergaji. Tolong bereskan. Turun… jangan diam saja di atas,” ucapnya.

Petani lain ikut bersuara, menyebut bahwa setiap kali tanaman teh siap panen, selalu ada pihak yang merusaknya.

“Setiap ada teh siap petik, digergaji. Siap petik digergaji… setelah dibersihkan, digergaji lagi. Mau bagaimana? Keadaan sudah begini, padahal saya harus menghidupi keluarga dari kebun ini,” tuturnya.

Para petani berharap pemerintah segera turun tangan menanggapi kondisi tersebut.
“Mudah-mudahan Pak Dedi bisa merespons. Sudah tidak ada lagi yang bisa dimintai tolong, hanya kepada Pak Dedi,” harap salah satu petani.

KoranMandala.com

Published by

Recent Posts

Ekspor Naik, PHK Tekstil Masih Membayangi Jawa Barat

KORAN MANDALA – Lonjakan nilai ekspor nasional belum sepenuhnya berdampak pada penyerapan tenaga kerja di…

27 menit ago

Adang Rochyana Terpilih Aklamasi Pimpin PMI Jabar 2026–2031

KORAN MANDALA –Irjen Pol (Purn.) Adang Rochyana kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Palang Merah…

54 menit ago

Jadwal Padat Mengadang, Marc Klok Tegaskan Target Persib

KORAN MANDALA –Persib Bandung tak punya banyak ruang untuk lengah. Di tengah jadwal pertandingan yang…

2 jam ago

Zakat BAZNAS Garut Tembus Rp13 Miliar, Penghimpunan Menurun

KORAN MANDALA – Penghimpunan zakat Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Garut mencapai Rp13 miliar pada…

3 jam ago

Cara Cek Desil Bansos 2026 Lewat HP, Ketahui Status Kesejahteraan

KORAN MANDALA –Masyarakat dapat mengecek desil kesejahteraan keluarga untuk mengetahui kelompok tingkat kesejahteraan yang tercatat…

4 jam ago

Jagad Music Waldorf Vol.1: Saat Musik Jadi Ruang Tumbuh Bersama Anak

KORAN MANDALA – Minggu pagi (18/10/2026), Jagad Alit Waldorf, sekolah Waldorf di Bandung yang menerapkan…

4 jam ago