Jumat, 27 Februari 2026 21:03

KORANMANDALA.COM – Perkebunan Teh Cisaruni Papandayan di , yang memiliki luas sekitar 5.039 hektare dan terletak di antara Gunung Papandayan serta Gunung Cikuray, merupakan salah satu penghasil teh hitam berkualitas tinggi sejak era kolonial Belanda.

Hingga kini, sebagian hasil produksinya masih diekspor ke Malaysia dan sejumlah negara Eropa. Catatan sejarah menyebutkan, perkebunan ini pernah mengekspor hingga 12 ton teh hitam dalam satu kali pengiriman.

Perkebunan ini didirikan oleh Karel Frederik Holle, tokoh agrikultur pada masa Hindia Belanda yang juga mengajarkan teknik budidaya teh kepada para petani lokal.

Prediksi Skor dan Jalannya Pertandingan Persib Bandung vs Borneo FC

Holle diketahui melakukan riset mengenai jenis tanaman yang cocok dibudidayakan di wilayah Garut. Peninggalannya kini masih berfungsi dan dikelola oleh PTPN VIII, salah satu perusahaan perkebunan terbesar di Indonesia.

Namun, keberlangsungan perkebunan teh tersebut kini terancam. Dalam unggahan video yang beredar di media sosial TikTok, sejumlah petani menyampaikan keluhan dan permohonan pertolongan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi menyusul maraknya perusakan tanaman teh di area perkebunan.

Dalam video tersebut, seorang petani perempuan tampak menangis sambil memohon bantuan.

“Pak Dedi, tolong Pak Dedi. Ini kebun teh Cisaruni dirusak. Saya harus kerja ke mana lagi? Kalau kebun teh ini tidak ada yang mengurus, akan habis,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kerusakan telah berlangsung bertahun-tahun.
“Tahun 2020 kebun teh ini mulai dirusaknya. Sekarang kebun tehnya sisa sedikit lagi. Cik, Pak Dedi… Bapak aing. Tolongi saya, Pak Dedi,” keluhnya.

Seorang petani laki-laki lainnya terlihat berteriak penuh emosi, meminta pemerintah turun tangan.

“Ini, Pak Dedi. Saya dituntut produksi dari atas, tapi mau bagaimana? Tehnya habis digergaji. Tolong bereskan. Turun… jangan diam saja di atas,” ucapnya.

Petani lain ikut bersuara, menyebut bahwa setiap kali tanaman teh siap panen, selalu ada pihak yang merusaknya.

“Setiap ada teh siap petik, digergaji. Siap petik digergaji… setelah dibersihkan, digergaji lagi. Mau bagaimana? Keadaan sudah begini, padahal saya harus menghidupi keluarga dari kebun ini,” tuturnya.

Para petani berharap pemerintah segera turun tangan menanggapi kondisi tersebut.
“Mudah-mudahan Pak Dedi bisa merespons. Sudah tidak ada lagi yang bisa dimintai tolong, hanya kepada Pak Dedi,” harap salah satu petani.

Exit mobile version