ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Di tengah tingginya jumlah perempuan yang harus memikul peran sebagai kepala keluarga di Kota Bandung, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) mengambil langkah nyata untuk memutus rantai kemiskinan melalui pelatihan keterampilan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Kepala DP3A Kota Bandung, Uum Sumiati, mengungkapkan terdapat lebih dari 160.000 perempuan yang secara administratif tercatat sebagai kepala keluarga. Namun, sekitar 7.000 di antaranya masih berada pada kondisi miskin dan rentan miskin sebuah angka yang mengkhawatirkan mengingat beban ganda yang harus mereka pikul.
“Data ini kami petakan bersama perangkat daerah. Dari situ kami berupaya ikut terlibat langsung dalam pengentasan kemiskinan dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi,” kata Uum Sumiati, Jumat (5/12/2025).
ADVERTISEMENT
Pernikahan Dini Masih Marak di Garut, DP3AKB Jabar: Sudah Ada Penurunan Tapi Kasusnya Tetap Tinggi
DP3A saat ini tengah menggelar pelatihan keterampilan bagi 200 perempuan kepala keluarga dari desil 1 hingga 4. Pelatihan dibagi dalam delapan angkatan dengan materi mencakup pastry, menjahit, hingga tata rias. Selain pelatihan, sejumlah peserta juga mendapatkan alat kerja sebagai langkah awal membuka peluang usaha.
“Harapannya setelah mendapatkan keterampilan ini, mereka bisa berpenghasilan sendiri. Bahkan akan lebih baik jika lahir wirausaha baru dari kalangan perempuan kepala keluarga,” ucapnya.
Untuk memperkuat program, DP3A menggandeng Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Namun Uum tidak menutup mata bahwa dukungan modal awal masih sangat dibutuhkan. Ia berharap kolaborasi dengan lembaga lain seperti Baznas dapat membantu dari sisi penyediaan alat dan modal usaha.
“Di beberapa pelatihan memang ada bantuan alat. Kalau dari kami fokus pada pelatihannya. Tapi jika ada potensi usaha, kami sangat berharap ada tambahan bantuan dari lembaga lain,” tuturnya.
Uum menegaskan, pelatihan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan keterampilan dasar, tetapi juga diharapkan menciptakan dampak nyata pada kesejahteraan keluarga, terlebih bagi perempuan yang harus berdiri sendiri sebagai tulang punggung.
“Tentu kami berharap program ini benar-benar mengubah hidup mereka. Setidaknya, mereka tidak lagi hanya bergantung pada bantuan, tetapi bisa bangkit secara mandiri,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






