Kamis, 26 Februari 2026 19:36

KORANMANDALA.COM – Kota mencatat kenyataan yang tidak bisa diabaikan, lebih dari 160.000 kini memikul peran sebagai kepala keluarga. Namun dari angka yang begitu besar, hanya sekitar 7.000 yang tercatat sebagai miskin atau rentan miskin. Diskrepansi ini membuat Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) mengingatkan adanya potensi besar kelompok rentan yang belum tersentuh bantuan.

Kepala DP3A Kota Bandung, Uum Sumiati, menjelaskan perempuan kepala keluarga bukan hanya yang berstatus janda, tetapi termasuk mereka yang suaminya pergi bekerja ke luar kota atau tidak tinggal serumah. Secara administratif, mereka menanggung peran penuh sebagai penopang keluarga.

“Di Kota Bandung itu ada lebih dari 160.000 perempuan yang secara administratif menjadi kepala keluarga. Mungkin ada yang suaminya tidak tinggal di sini karena tugas, dan lainnya,” kata Uum Sumiati Jumat (5/12/2025).

Kemiskinan Mencekik: Gabah dan Dompet Jadi Sasaran Pencuri di Jabar

Namun, berdasarkan data resmi Dinas Sosial (Dinsos), hanya 7.000 perempuan yang masuk kategori miskin hingga rentan miskin. Angka ini jauh dari proporsional jika dibanding beban sosial-ekonomi yang dihadapi perempuan kepala keluarga di perkotaan.

“Yang penting, kami terus melakukan koordinasi untuk mengidentifikasi perempuan kepala keluarga yang betul-betul butuh intervensi,” tegasnya.

Uum mengingatkan tanpa pemetaan yang detail, banyak perempuan yang sebenarnya berjuang dalam kesunyian tidak tercatat miskin di data pemerintah, tetapi menghadapi tekanan ekonomi yang sama beratnya dengan rumah tangga miskin.

Oleh karena itu, pemetaan ulang menjadi kunci agar program intervensi tidak hanya menyasar yang terlihat, tetapi juga mereka yang selama ini menghilang di balik data administratif.

DP3A juga menjalankan berbagai program pemberdayaan, seperti pelatihan pastry, menjahit, hingga tata rias bagi kelompok miskin dan rentan. Program ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi diharapkan menjadi jalan keluar menuju kemandirian.

“Dengan pemetaan yang tepat, intervensi bisa menyasar mereka yang benar-benar membutuhkan. Kami ingin perempuan kepala keluarga tidak hanya bertahan hidup, tapi juga mampu bangkit secara ekonomi dan sosial,” ujarnya

KoranMandala.com

Exit mobile version