ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) memastikan kondisi pasokan dan distribusi bahan pangan tetap terkendali.
Meski permintaan masyarakat diprediksi melonjak signifikan, Disdagin menegaskan tidak ada indikasi kelangkaan maupun potensi inflasi tajam pada komoditas pokok.
Kepala Disdagin Kota Bandung, Ronny Ahmad Nurudin, mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan intensif selama beberapa pekan terakhir di seluruh pasar tradisional, ritel modern, dan pusat distribusi pangan di Kota Bandung.
ADVERTISEMENT
Dari hasil pemantauan tersebut, stok bahan pokok seperti beras, telur, minyak goreng, daging ayam, daging sapi, cabai, dan bawang berada dalam kondisi aman dengan suplai yang cukup untuk kebutuhan masyarakat.
“Menjelang Nataru kebutuhan biasanya meningkat cukup tinggi. Namun berdasarkan pantauan teman-teman di lapangan, ketersediaan tetap aman. Pasokan juga lancar, sehingga meskipun banyak yang membeli, kondisinya masih terkendali,” kata Ronny, Kamis (4/12/2025).
Kenaikan Harga Sayuran Mulai Terasa di Bandung, Warga Diminta Lebih Hemat Menjelang Nataru
Ronny menambahkan selain memantau harga dan ketersediaan, pihaknya juga memeriksa kelancaran distribusi dari berbagai titik suplai, termasuk wilayah sentra produksi di Jawa Barat. Distribusi barang dari luar kota, menurutnya, tetap berjalan normal tanpa gangguan yang berarti. Hal ini menandakan bahwa rantai pasok pangan menuju Kota Bandung berada dalam kondisi stabil.
“Kami memonitor ini setiap hari, terutama komoditas yang sensitif saat musim liburan. Dari hasil pengecekan, baik harga maupun pasokan masih berada pada angka yang wajar,” ujarnya.
Permintaan pada akhir tahun biasanya meningkat karena kebutuhan rumah tangga yang bertambah, aktivitas wisatawan yang meningkat, serta kegiatan perayaan keagamaan dan liburan.
Meski demikian, Ronny memastikan bahwa angka permintaan tersebut sudah diantisipasi oleh para distributor dan pelaku usaha. Beberapa pedagang juga disebut telah menambah stok lebih awal untuk menghindari kekurangan suplai.
“Para pedagang sudah terbiasa menghadapi siklus Nataru. Jadi mereka sudah menambah stok sejak beberapa waktu lalu agar suplai tidak terganggu,” ungkapnya.
Ronny mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying. Menurutnya, tindakan tersebut justru dapat memicu ketidakseimbangan pasar dan menimbulkan persepsi kelangkaan yang sebenarnya tidak ada.
“Jangan panik, yang pasti jangan panik. Insyaallah kami terus monitor ketersediaan dan harganya. Belanjalah sesuai kebutuhan agar situasi tetap stabil,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






