ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Praktik pungutan liar (pungli) di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kota Bandung kembali menjadi sorotan. Meski pemerintah sudah memasang plang peringatan, menyiapkan layanan resmi, hingga menegur petugas di lapangan, nyatanya “tradisi” pungli di area pemakaman masih saja terjadi bahkan seolah-olah sudah dianggap hal biasa.
Kepala Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang (Ciptabintar) Kota Bandung, Rulli Subhanuddin, menegaskan Pemkot tidak pernah ragu memberi sanksi tegas kepada petugas resmi yang terbukti melakukan pungli.
“Kalau ASN atau P3K ketahuan, pasti kita berhentikan. Sudah pernah terjadi,” tegas Rulli, Selasa (2/12/2025).
ADVERTISEMENT
Namun persoalan tak sesederhana itu. Menurutnya, sebagian praktik pungli justru dilakukan oleh warga yang mencari nafkah di sekitar TPU dan di sinilah masalah menjadi pelik.
“Kalau pencari nafkah masyarakat di situ susah. Masalahnya sudah dari dulu. Sosialisasi sudah, pendekatan sudah, tapi tetap ada saja,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Bandung Erwin Ancam Pecat Petugas TPU yang Terlibat Pungli
Padahal, banyak layanan pemakaman sebenarnya gratis, seperti rumputnisasi. Program itu dilaksanakan menggunakan anggaran pemerintah dan saat ini sudah menjangkau hampir seluruh TPU meski belum 100 persen karena keterbatasan anggaran dan luas lahan yang besar.
Rulli menegaskan masyarakat seharusnya tidak perlu membayar jasa calo hanya karena “sudah biasa ke orang itu”. Ia meminta keluarga ahli waris untuk langsung datang ke kantor TPU agar dilayani sesuai prosedur tanpa biaya tambahan.
“Kadang orang tua kita percaya ke si A atau si B, jadi ‘nyawet’ terus padahal nggak begitu. Datang saja ke kantor TPU, pasti dilayani dengan baik,” tegasnya.
Rulli mengatakan, Pemkot Bandung sudah memasang plang besar di setiap TPU termasuk daftar layanan yang tidak dikenai biaya. Tapi lagi-lagi, masalah baru muncul, petugas resmi di TPU sering kali tidak berdaya menghadapi oknum masyarakat yang tetap nekat memungut uang dari keluarga ahli waris.
“Ini masyarakat lawan masyarakat. Kita sudah panggil mereka, tapi tetap kekeh, petugas pun kadang kewalahan,” ungkapnya.
Selain soal pungli, Rulli juga mengaku hampir seluruh TPU di Kota Bandung kini telah padat. Hanya TPU Rancacili dan sebagian area Cibiru yang masih memiliki ruang tersisa.
Selain itu, saat ditanya soal solusi jangka panjang, ia menyebut ada dua opsi, yaitu tumpang makam atau pembukaan TPU baru melalui pembebasan lahan. Namun membuka lahan baru bukan perkara mudah.
“Biayanya tidak sedikit. Harus ada perencanaan anggaran yang matang,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






