KORANMANDALA.COM – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tengah menyiapkan strategi besar untuk memastikan kenyamanan, keamanan dan kelancaran arus wisatawan maupun masyarakat Kota Bandung.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan tahun ini pemkot akan fokus pada pemecahan konsentrasi massa agar keramaian tidak hanya menumpuk di kawasan-kawasan langganan seperti Setiabudi, Dago, Cihampelas dan Pasteur.
“Kita akan mengukur dan mencoba memecah titik-titik konsentrasi. Kiara Artha Park akan kita push untuk bikin acara-acara menarik. Lalu Gedebage terutama pengelolaan parkir dan traffic menuju Al Jabbar akan kita perhatikan. Selain itu, sekitar Stadion GBLA dan Sumarecon. Harapannya, masyarakat terpecah antara timur dan utara, tidak hanya bertumpuk di satu area,” kata Farhan, Senin (1/12/2025).
Terkait acara resmi Pemkot Bandung, Farhan menyebut masih dalam tahap pengkajian. Sejumlah lokasi dipertimbangkan, mulai dari Balai Kota, Alun-Alun Bandung, hingga wilayah Bandung Timur. Namun ia memastikan bahwa aspek keamanan menjadi prioritas utama.
“Yang paling penting saat tahun baru adalah keamanan terjamin. Dari pengalaman mengelola pawai Persib dan acara besar lainnya, tampaknya kita akan lakukan pengerahan personel besar-besaran,” ujarnya.
Farhan juga menyoroti isu klasik perayaan Nataru yaitu keterbatasan kantong parkir. Tahun ini, Pemkot akan membuka opsi peminjaman lahan warga di titik keramaian untuk dijadikan parkir sementara.
“Sekarang kita berusaha membuka beberapa lahan di keramaian saat Nataru, kita pinjam dari masyarakat agar bisa dimanfaatkan,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala BLUD Parkir Kota Bandung, Yogi Mamesa, turut memberikan langkah penegasan terkait tata kelola parkir. Ia mengatakan arahan parkir gratis tanpa karcis adalah upaya penting untuk menekan praktik “getok parkir” yang kian meresahkan.
“Saya mengeluarkan pernyataan tidak ada karcis parkir berarti gratis. Ini untuk menghilangkan kesan bahwa di Kota Bandung banyak praktik getok parkir. Jadi kalau tidak diberikan karcis, dianggap gratis. Ini demi rasa aman dan nyaman bagi tamu yang datang,” tegas Yogi.
Meski pengawasan dan sosialisasi terus dilakukan, Yogi menilai salah satu akar masalah adalah keterbatasan kantong parkir.
“Ke depan kita akan coba membuat kantong-kantong parkir baru agar tidak terjadi getok parkir, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna jasa parkir,” pungkasnya.
