ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Di tengah meningkatnya kebutuhan edukasi dan pencegahan HIV, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan peringatan Hari AIDS 2025 harus menjadi alarm keras bagi kota ini, yakni stigma dan kebodohan publik soal perilaku berisiko masih menjadi batu besar yang menghambat penanggulangan HIV.
Kota Bandung mencatat sebanyak 8.000 hingga 9.000 kasus HIV/AIDS sampai bulan Juli 2025 angka mayoritas yang terkena kasus terjadi pada laki-laki dan kelompok usia produktif dari 20 sampai 50 tahun.
“Peringatan Hari AIDS tahun ini harus jadi momentum memperkuat edukasi sekaligus menghapus stigma, karena dua hal itulah yang paling menghambat Kota Bandung untuk menurunkan kasus HIV,” kata Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (1/12/2025).
ADVERTISEMENT
Farhan menyebut, stigma membuat banyak penyintas memilih diam, menghindar, bahkan enggan memeriksakan diri. Di sisi lain, masyarakat masih belum memahami faktor-faktor risiko penularan.
“AIDS ini bukan hanya soal penyakit, tapi tentang perilaku dan itulah yang harus terus kita edukasikan,” ujarnya.
Sebagai Ketua Komite Penanggulangan AIDS Kota Bandung, Farhan menegaskan Warga Peduli AIDS (WPA) tetap menjadi garda terdepan sosialisasi. Para relawan WPA ditegaskan mampu menjangkau titik-titik yang sering tak terlihat oleh program formal.
“Pendampingan langsung ke RW dan kelompok yang sulit dijangkau itu kunci. WPA sudah membuktikan itu,” tegasnya.
Farhan juga menyoroti kelompok-kelompok berisiko tinggi yang membutuhkan penanganan khusus, mulai dari pengguna narkotika suntik, ibu menyusui dengan HIV, hingga ibu hamil yang sudah terinfeksi.
“Mereka ini harus ditangani intensif karena bisa menularkan ke pasangan maupun anak,” jelasnya.
Kelompok pekerja seks komersial (PSK) juga menjadi fokus. Namun, pendataan mereka menjadi pekerjaan rumah yang tak sederhana.
“Data dari kelompok ini tidak resmi, dan itu membuat upaya intervensi jadi lebih sulit,” ungkapnya
Farhan pun menegaskan jika Bandung ingin menekan laju penularan HIV, kota ini harus berani menghadapi akar masalahnya yakni stigma, minim edukasi dan kelompok risiko tinggi yang sulit dijangkau.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






