ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Turnamen Raden Dewi Sartika (RDS) Gateball Cup ke-6 resmi ditutup pada Sabtu (30/11/2025), setelah berlangsung selama tiga hari sejak 28 November 2025.
Ajang yang dihelat di DSC Gateball Court, Jalan Saturnus Ujung 19, Margahayu Raya, ini diikuti sekitar 27 tim dari kategori beregu putri U-50+, dengan total lebih dari 200 peserta dan penonton.
Turnamen ini digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Pahlawan Nasional Raden Dewi Sartika, tokoh pendidikan perempuan asal Jawa Barat yang memiliki peran besar dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi kaum perempuan.
ADVERTISEMENT
Klik Disini, Link Live Streaming Madura United vs Persib Bandung, Gratis
Ketua Pelaksana RDS Gateball Cup, Sutardi (66), mengatakan bahwa komunitas Gateball Bandung berkomitmen menjaga keberlanjutan kegiatan ini.
“RDS ini sudah berlangsung enam kali sejak 2019. Kita konsisten mengadakan untuk mengenang jasa Pahlawan Nasional Dewi Sartika yang jasanya sangat besar,” ujarnya.
Tahun ini, acara berlangsung lebih meriah dengan sejumlah inovasi, termasuk penggunaan bahasa Sunda dalam seremoni pembukaan dan peluncuran perdana lagu Himne Raden Dewi Sartika berjudul Melangkah Pasti.
“Ciri khas tahun ini adalah penggunaan bahasa Sunda sejak pembukaan, sekaligus launching lagu himne Raden Dewi Sartika,” jelas Sutardi.
Sutardi menyebut gateball menjadi olahraga yang sedang naik daun di Kota Bandung.
“Gateball sekarang sangat viral. Banyak yang suka. Mudah-mudahan masyarakat Bandung semakin tahu bahwa penghormatan kepada beliau tidak berhenti sampai di sini,” tuturnya.
Karena RDS merupakan pahlawan perempuan, turnamen ini memang didedikasikan khusus untuk peserta perempuan.
“Pemain gateball hampir seribuan. Karena RDS adalah pahlawan perempuan, cocok kalau yang bertanding juga ibu-ibu. Kita ingin mengingatkan perjuangan beliau, terutama kepada para wanita,” tambahnya.
Ia juga menitipkan pesan kepada generasi muda untuk tidak melupakan sejarah.
“Dulu perempuan sulit mendapat pendidikan. Sekarang ada kesetaraan gender, itu hasil perjuangan beliau,” ujarnya.
Ketua Gateball Club Semansa Dago (GCSD), Iis (67), menjelaskan bahwa klubnya merupakan salah satu pionir komunitas gateball berbasis alumni sekolah di Bandung.
“GCSD ini Gateball Club Smansa Dago, dari alumni SMA 1 Bandung yang menyukai gateball. Olahraga ini berasal dari Jepang dan berkembang ke Indonesia melalui Bali,” katanya.
Ia menambahkan pentingnya mengangkat kembali nama Raden Dewi Sartika ke ruang publik.
“Anak-anak seringnya mengenal Kartini, padahal Dewi Sartika juga pahlawan nasional dari Bandung. Kita perlu mengetuk hati generasi muda bahwa kita punya pahlawan perempuan hebat dari Sunda,” ucapnya.
Sementara itu, Dewan Pembina GCSD, Hendi (67), menilai gateball memiliki kekuatan sosial yang tinggi.
“Gateball di Bandung berkembang pesat sejak 2019. Olahraga ini efektif menyatukan dan menjalin silaturahmi. Tidak memerlukan fisik prima, tetapi mengandalkan kekompakan,” jelasnya.
Panitia dan komunitas gateball berharap Pemerintah Kota Bandung dapat memberikan perhatian lebih dalam memperingati hari lahir Raden Dewi Sartika dan mengembangkan kegiatan bernilai edukasi seperti RDS Cup.
“Mudah-mudahan ke depan ada inisiatif dari berbagai elemen masyarakat, bukan hanya olahraga tapi juga musisi dan sektor lainnya. Kami berharap Pemkot Bandung memberi perhatian lebih pada momentum peringatan hari lahir Raden Dewi Sartika,” ujar perwakilan panitia.
Rangkaian RDS Gateball Cup bukan hanya ajang kompetisi olahraga, tetapi juga upaya meneguhkan kembali warisan perjuangan Raden Dewi Sartika di bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan.
“Kenanglah pahlawan nasional kita. Tanpa beliau, belum tentu kita seperti sekarang,” pesan Hendi menutup kegiatan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






