ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Gerakan lingkungan Masjid Salman ITB, yang dikenal dengan nama Salman Environmental Rangers atau Saviorangers (Savior), terus menunjukkan peran pentingnya dalam mendorong perubahan perilaku pengelolaan sampah di lingkungan kampus dan masyarakat.
Gerakan ini bermula dari kajian internal Masjid Salman pada 2017. Saat itu, kegiatan penerbitan dan pengkajian Salman menginisiasi Simposium Ilmiah Masjid yang memunculkan kebutuhan untuk merumuskan model pengelolaan lingkungan yang lebih terarah dan berbasis riset.
Dari proses tersebut lahirlah Riset Rintisan Model (RRM), yang menjadi fondasi terbentuknya Savior sebagai sebuah gerakan komunitas, bukan sekadar program temporer.
ADVERTISEMENT
Persib dan Jubelo Kelola 3 Ton Sampah di Laga Kontra Dewa United di GBLA
Secara resmi, Savior mulai berjalan sebagai komunitas pada 2022. Meski relatif baru, gerakan ini berkembang pesat dengan membentuk struktur tim rangers sebagai pelaksana program. Saat ini terdapat tiga divisi utama: Zero Waste Rangers, Farming Rangers, dan Cat Rangers.
Zero Waste Rangers fokus pada edukasi dan praktik pengelolaan sampah berkelanjutan, mulai dari pemilahan, pengomposan, hingga sosialisasi ke jamaah maupun panitia kegiatan.
Salah satu hasil riset yang terus diperbarui adalah sistem labelisasi tempat sampah di lingkungan Masjid Salman, yang awalnya hanya memiliki dua kategori dan kini berkembang menjadi lima jenis.
Farming Rangers berperan mengolah kompos dari sampah organik untuk digunakan kembali sebagai media tanam. Divisi ini membangun ekosistem pengelolaan sampah berkelanjutan dari hulu ke hilir mulai dari pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali.
Sementara itu, Cat Rangers bertugas mengelola populasi kucing liar yang kerap berada di kawasan masjid. Divisi ini menjaga kenyamanan jamaah tanpa melakukan pemindahan hewan, melainkan mengatur teritorial dan kondisi lingkungan agar tetap bersih dan terkontrol.
Dalam setiap kegiatan di Masjid Salman, Savior menekankan pentingnya edukasi melalui konsep ekoliterasi. Panitia acara dilibatkan langsung dalam pemilahan sampah, dengan harapan kebiasaan tersebut dapat terbentuk dan diterapkan di rumah masing-masing.
“Kami fokus memperbaiki kebiasaan. Dari yang awalnya membuang sampah sembarangan, kemudian membuang pada tempatnya, hingga bisa memilah dan bahkan bersedekah sampah,” ujar M. Fikrii Ardiansyah, bagian implementasi model di Savior.
Terkait kebijakan pemerintah mengenai pemilahan sampah berbasis RW, Savior menilai langkah tersebut sudah tepat, namun memerlukan pendampingan yang konsisten.
Fikrii mencontohkan program sebelumnya, Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), yang sempat berjalan baik namun terhenti saat terjadi pergantian pemimpin.
Kini, Pemerintah Kota Bandung kembali mengusung kebijakan serupa melalui program Satu RW Satu Petugas Pemilah.
“Pemilahan itu sudah benar. Tantangannya terletak pada implementasi. Masyarakat perlu terus diingatkan, tidak cukup hanya mengandalkan satu RW,” jelas Fikrii.
Ke depan, Savior menargetkan Masjid Salman ITB menjadi model masjid ramah lingkungan. Gerakan ini berupaya menjembatani riset dan aksi nyata sekaligus membangun kesadaran lintas generasi agar lebih peduli terhadap lingkungan.
“Harapannya, Savior menjadi modal besar bagi masyarakat untuk naik level dalam memperlakukan sampah dan lingkungan dimulai dari langkah kecil, konsisten, dan dilakukan bersama,” tutup Fikrii.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






