Jumat, 27 Februari 2026 6:10

KORANMANDALA.COM –Pemerintah Kota kembali menyoroti tingginya kasus pada remaja putri. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut sekitar 40 persen remaja putri di Kota Bandung mengalami anemia, mayoritas terindikasi saat pertama kali menstruasi.

Pernyataan itu disampaikan Farhan pada kegiatan Siskamling Siaga Bencana di Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cibeunying Kidul, Jumat 28 November 2025.

Anemia kondisi ketika kadar hemoglobin atau sel darah merah berada di bawah batas normal menyebabkan gejala seperti lemas, letih, mudah lelah, hingga pucat. Namun, tingginya angka anemia di kota besar seperti Bandung memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas program pencegahan yang selama ini berjalan.

Persib dan Jubelo Kelola 3 Ton Sampah di Laga Kontra Dewa United di GBLA

Farhan menyatakan, Pemkot Bandung kini menggenjot program Tablet Tambah Darah (TTD) gratis untuk remaja putri. “Karena itu kita jalankan program Tablet Tambah Darah khusus remaja putri,” kata Farhan.

Namun hingga kini, Pemkot masih belum membeberkan faktor penyebab tingginya prevalensi anemia, seperti pola makan, status gizi keluarga, atau akses terhadap makanan bergizi—yang seharusnya menjadi dasar penanganan menyeluruh.

Farhan mengingatkan anemia yang terjadi sejak remaja dapat berlanjut hingga dewasa dan masa kehamilan. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kehamilan berisiko tinggi bahkan meningkatkan risiko stunting.

Tetapi, sejauh ini program yang ditawarkan pemerintah masih bersifat kuratif, belum terlihat strategi jangka panjang seperti edukasi gizi di sekolah, intervensi dapur sehat keluarga, atau penguatan ketahanan pangan tingkat kota.

Dalam kesempatan tersebut, Farhan juga mengaitkan masalah anemia dengan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi Kota Bandung yang diklaim lebih tinggi dari rata-rata nasional.

“Pertumbuhan ekonomi kita sekarang tinggi. Kalau ini bisa kita jaga, Bandung akan makin sejahtera. Kota yang sejahtera pasti membutuhkan banyak tenaga kerja,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menimbulkan ironi: kota dengan ekonomi yang tumbuh pesat justru masih menghadapi masalah kesehatan dasar pada generasi mudanya. Tanpa perbaikan kualitas gizi, upaya meningkatkan produktivitas hanya akan berjalan setengah hati.

Farhan juga menyebut perkembangan pesat Bandung akan menarik semakin banyak pendatang dari luar daerah. “Kita semua harus siap menghadapi persaingan produktivitas,” katanya.

Namun, tingginya angka anemia justru menunjukkan bahwa kesiapan sumber daya manusia lokal masih perlu perhatian serius. Program TTD memang solusi cepat, tetapi tanpa evaluasi menyeluruh dan intervensi berkelanjutan, remaja putri Kota Bandung tetap berpotensi tertinggal dalam persaingan.

Koranmandala.com

Exit mobile version