Jumat, 27 Februari 2026 6:53

KORANMANDALA.COM – Laboratorium Pelatihan Program Bangga Kencana pertama di Indonesia resmi berdiri di Kampung Curug Pesantren, Desa Karyasari, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten , Jawa Barat. Fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemendukbangga/BKKBN, Pemerintah Kabupaten Garut, Pemerintah Desa Karyasari, serta Rumah Amal Salman ITB.

Laboratorium tersebut diharapkan menjadi percontohan nasional dalam pelatihan pemberdayaan masyarakat dan percepatan penurunan stunting.

Peresmian turut dihadiri Wakil Bupati Garut , Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat Dadi Ahmad Roswandi, Kepala Balai Diklat KKB Garut Tohirin Hasan, serta jajaran pimpinan Yayasan Rumah Amal Salman ITB.

Persib dan Jubelo Kelola 3 Ton Sampah di Laga Kontra Dewa United di GBLA

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Garut Putri Karlina mengapresiasi sinergi berbagai pihak dalam membangun laboratorium ini. Menurutnya, fasilitas tersebut menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dan memperkuat ketahanan keluarga.

“Saya berharap ini berkelanjutan terus dan bisa dicontoh oleh desa-desa lain,” ujarnya.

Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi, menegaskan bahwa laboratorium ini merupakan yang pertama di Indonesia dalam implementasi Program Bangga Kencana.

“Kita harapkan ini menjadi episentrum pendidikan dan pelatihan bagi berbagai kementerian, lembaga, dan stakeholder dalam pembangunan keluarga di Indonesia,” katanya.

Dadi juga menyoroti perkembangan penurunan prevalensi stunting di Jawa Barat yang kini mencapai 15,9 persen. Di Kabupaten Garut, angka stunting turun menjadi 14 persen sehingga dinilai layak menjadi daerah percontohan nasional.

Ia menambahkan bahwa laboratorium ini mengintegrasikan praktik pertanian organik, budidaya ikan, serta pemanfaatan hasil panen untuk membantu keluarga berisiko stunting.

Inisiator sekaligus pengelola laboratorium, Tohirin Hasan, menjelaskan bahwa pendekatan pelatihan kini tidak lagi hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi menyatu dengan aktivitas masyarakat.

“Ini benar-benar kembali ke alam, melakukan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat,” tegasnya.

Kepala Desa Karyasari, Gaya Mulyana, menambahkan bahwa pemerintah desa mendukung penuh program tersebut. Ia menyebutkan bahwa budidaya ikan nila dan sayuran merupakan hasil koordinasi bersama Rumah Amal Salman dan tokoh masyarakat setempat.

“Mudah-mudahan ini menjadi pilot project bagi wilayah lain, terutama desa-desa di Garut, dalam pengembangan SDM dan pelatihan masyarakat,” ujarnya.

Direktur Rumah Amal Salman ITB, Syachrial, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor akan terus dijalankan untuk mendukung keberlanjutan laboratorium ini, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat.

“Harapannya ini menjadi laboratorium nyata, tempat bertemu langsung dengan persoalan stunting, perangkat desa, dan akademisi. Ini jadi tempat kolaborasi yang hidup,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan bahwa Rumah Amal Salman telah bermitra dengan pesantren setempat selama satu dekade untuk pemanfaatan lahan, yang kini menjadi fondasi inovasi berkelanjutan.

“Semoga bisa diduplikasi, meskipun tiap wilayah berbeda. Kami siap mendampingi dengan dukungan ahli ITB dan mahasiswa,” tambahnya.

Peresmian laboratorium ini menandai langkah penting bagi Kabupaten Garut sebagai daerah percontohan dalam integrasi Program Bangga Kencana, penguatan ketahanan pangan keluarga, serta percepatan penurunan stunting melalui pendekatan kolaborasi pentahelix. (*.*)

Koranmandala.com

Exit mobile version