Kamis, 26 Februari 2026 12:22

KORANMANDALA.COM –Wali Kota Bandung Muhammad secara terbuka mengakui bahwa industri pariwisata di Kota Bandung masih tertinggal dalam hal pelayanan atau level of service.

Meski produk kuliner dan destinasi Bandung diakui luar biasa, ia menilai mentalitas pelayanan pelaku industri pariwisata masih jauh dari standar kelas dunia.

“Produk kita luar biasa, makanan kita paling enak, suasana kota kita asri. Tapi level of service-nya belum cukup internasional,” tegas Farhan

Farhan Hormati Proses Hukum, Tegaskan Tak Ada Intervensi atas Pemeriksaan Ketua NasDem Bandung oleh Kejari

Farhan mencontohkan masih banyak restoran atau tempat wisata yang belum memahami makna pelayanan profesional. Ia menyinggung fenomena restoran yang meminta pelanggan untuk follow akun Instagram agar mendapat makanan gratis.

“Itu lucu, tapi menunjukkan bahwa mental pelayanannya belum siap ke kelas dunia,” ujarnya dengan nada kritis.

Menurut Farhan, sebagian besar wisatawan yang datang ke Kota Bandung saat ini merupakan wisatawan premium dengan daya beli tinggi. Namun, peningkatan permintaan dari segmen ini tidak diimbangi dengan peningkatan mutu pelayanan.

“Wisatawan kita berani bayar mahal. Ada yang rela bayar dua juta semalam hanya demi kenyamanan. Jadi pelaku pariwisata juga harus naik kelas dalam memberikan layanan terbaik,” tandasnya.

Farhan mengungkapkan, data okupansi hotel berbintang di Bandung kini dua kali lipat lebih tinggi dibanding hotel non-bintang. Fakta ini menunjukkan adanya pergeseran tren wisatawan yang lebih mementingkan kualitas dan pengalaman.

Namun di balik pertumbuhan tersebut, Farhan menyoroti dua isu klasik yang masih membayangi citra pariwisata Bandung: keamanan dan kebersihan.

“Rasa aman itu penting. Salah satu tantangan kita adalah praktik parkir liar yang meresahkan wisatawan. Nilainya mungkin kecil, tapi dampaknya bisa besar karena membuat orang kesal lalu mengeluh di media sosial,” ujarnya.

Ia juga menyoroti persoalan sampah yang menumpuk di kawasan wisata, yang menurutnya menjadi gangguan terbesar bagi kenyamanan pengunjung.

“Sampah adalah gangguan terbesar bagi kenyamanan wisatawan. Ini akan jadi fokus kerja kami sampai akhir tahun,” tegasnya.

Farhan menegaskan, pemerintah kota tidak bisa bekerja sendiri. Ia meminta seluruh pelaku usaha wisata untuk ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan, keamanan, dan keramahan di lingkungannya.

“Produk kita sudah hebat. Sekarang tinggal perilaku kita — bagaimana bisa lebih ramah, lebih sigap, dan lebih berkelas,” pungkasnya.

Koranmandala.com

Exit mobile version