ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di antara sejuknya udara kaki Gunung Ciremai, suara gemericik dedaunan berpadu dengan aroma tanah basah selepas hujan. Di LQ Forest, Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, Kuningan, suasana itu berubah menjadi ruang renung bagi siapa pun yang datang.
Bukan sekadar menikmati alam, melainkan menyelami “Krisis Identitas” tema yang diusung dalam pameran tunggal karya Asep Dheny Oerupa Legendaris, sosok yang akrab dijuluki Presiden Sandal Jepit.
Pameran yang digelar selama sepuluh hari, 18–28 Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, menjadi magnet bagi berbagai kalangan.
ADVERTISEMENT
PLN UP3 Bandung Sukses Kawal Laga Persib vs Persis Solo Tanpa Listrik Kedip
Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani, Kepala Disporapar Asep Budi Setiawan, pemilik LQ Forest Teh Lilis, para mahasiswa, pelajar, seniman, hingga aktivis lingkungan, tampak hadir memberi apresiasi.
Asep Dheny menghadirkan 40 karya orisinal yang menyatu dalam bentuk rupa, instalasi, media silang, dan narasi visual. Semua berpusat pada satu simbol sederhana sandal jepit.
Benda yang sering dianggap remeh ini justru ia jadikan medium untuk menyelami sisi terdalam kehidupan: kerasnya realitas sosial-politik, pencarian spiritual, hubungan manusia dengan alam, hingga getirnya cinta.
“Krisis identitas bukan hanya tentang siapa kita, tapi tentang bagaimana kita dipaksa menjadi sesuatu yang bukan diri kita,” ujar Asep Dheny dengan tatapan penuh makna.
Melalui lukisan-lukisan sandal jepit yang absurd, satir, namun reflektif, Asep mengajak publik masuk ke ruang kontemplasi yang dekat dengan keseharian. Setiap goresan seperti menuntun kita memahami bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, adalah jejak identitas itu sendiri.
Sebagai seniman asal Kuningan, Asep Dheny dikenal konsisten dengan gaya surealis dan satiris, mengusung kritik sosial dan refleksi eksistensial.
Dalam dunia visual ciptaannya yang ia sebut “Republik Sandal Jepit”, sandal bukan sekadar alas kaki, melainkan simbol perlawanan terhadap absurditas kehidupan modern.
Tak berhenti pada pameran karya, “Krisis Identitas” juga dirangkai dengan berbagai kegiatan seni dan literasi. Ada bedah buku penulis-penulis Kuningan bersama Asep Budi Setiawan dan Pandu Hamzah, monolog “Sandal Jepit” oleh Ipung D Kusmawi, tarian eksperimental oleh Iing Sayuti, hingga screening film, performing arts, dan diskusi hukum. Semua berpadu membentuk harmoni gagasan yang saling menumbuhkan.
Meski digelar di lokasi terpencil di kaki gunung, antusiasme masyarakat seni Kuningan tak surut. Mereka datang silih berganti, menyusuri jalan berkelok hanya untuk menyaksikan bagaimana sandal jepit bisa berbicara tentang manusia dan kemanusiaan.
“Semoga melalui pameran tunggal ini, energi positif berkesenian terus tumbuh di Kuningan,” tutur Asep Budi Setiawan, Kepala Disporapar Kuningan, menutup rangkaian kegiatan yang penuh makna itu. (Hendra)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






