ADVERTISEMENT
KoranMandala.com –Pengamat transportasi publik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Harun Al Rasyid, menilai kemacetan di Kota Bandung tidak semata disebabkan oleh meningkatnya jumlah kendaraan bermotor.
Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada perencanaan tata ruang kota yang tidak terintegrasi dengan sistem transportasi publik.
“Fokus yang berlebihan pada jumlah kendaraan sebagai penyebab utama kemacetan itu keliru. Bandung mengalami urban sprawl tanpa konsep Transit-Oriented Development (TOD), sehingga warganya menjadi car-dependent by design,” ujar Harun saat diwawancarai di Bandung, Selasa (7/10/2025).
ADVERTISEMENT
LIPSUS: Kemacetan Curi Rezeki Sopir Angkot, Bandung Butuh Aksi – Angkot Pintar Masih Ilusi?
Harun menegaskan, kemacetan di Bandung merupakan konsekuensi dari pola pembangunan yang tidak berkelanjutan (unsustainable).
Ketiadaan integrasi antara sistem transportasi dan tata guna lahan membuat masyarakat bergantung pada kendaraan pribadi dalam aktivitas sehari-hari.
Paradigma Lama: Solusi Fisik Tak Lagi Relevan
Lebih lanjut, Harun mengkritik pandangan yang masih menempatkan infrastruktur fisik sebagai solusi utama dalam mengatasi kemacetan. Menurutnya, paradigma tersebut sudah usang dan tidak sesuai dengan hasil kajian transportasi modern.
“Kritik terhadap ketidakmampuan memperlebar jalan justru menunjukkan paradigma lama. Penelitian urban planning sudah membuktikan bahwa setiap penambahan kapasitas jalan hanya akan memicu lalu lintas baru atau induced traffic,” katanya.
Ia menilai, pemerintah perlu mengubah arah kebijakan menuju traffic demand management dengan mengatur permintaan perjalanan, bukan hanya menambah pasokan jalan.
Langkah seperti pembatasan akses kendaraan ke pusat kota dan pengelolaan parkir berbasis zona dinilai lebih efektif dibandingkan pembangunan jalan baru.
Terkait kritik terhadap target rasio pengguna transportasi publik yang dianggap “tidak ambisius”, Harun menyebut angka tersebut masih realistis untuk masa transisi.
“Transformasi dari kota yang berorientasi mobil (car-oriented) menjadi kota berbasis transit (transit-oriented city) butuh waktu dan perubahan perilaku masyarakat. Tidak bisa instan,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






