KoranMandala.com – Aktivitas panjat tebing di kawasan Gunung Batu, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, sudah berlangsung sejak lama. Berada di ketinggian sekitar 1.335 meter di atas permukaan laut (mdpl), lokasi ini menjadi salah satu destinasi favorit para pegiat olahraga ekstrem, baik dari komunitas lokal maupun luar daerah.
Ragil, salah seorang pegiat panjat tebing sekaligus warga sekitar Gunung Batu, mengatakan bahwa kegiatan panjat di kawasan tersebut diperbolehkan selama tidak merusak alam.
“Kegiatan panjat tebing di Gunung Batu ini sudah ada sejak dulu. Kita boleh berkegiatan asalkan tidak merusak atau mengubah tatanan alam yang ada,” ujarnya, Sabtu (4/10/2025).
LIPSUS: Kemacetan Curi Rezeki Sopir Angkot, Bandung Butuh Aksi – Angkot Pintar Masih Ilusi?
Meski demikian, Ragil mengakui ada kekhawatiran tersendiri karena tebing yang digunakan berada tepat di jalur Sesar Lembang, salah satu sesar aktif yang membentang sekitar 29 kilometer di wilayah utara Bandung.
“Karena di sini pusat sesar aktif, jadi saya ada ketakutan juga dengan bencana. Tapi namanya juga bencana, tidak ada yang tahu. Kita berharap semoga tidak ada pergerakan besar di Sesar Lembang ini,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Ahmad Syauqi (34), pegiat panjat tebing lainnya. Ia mengaku bersyukur belum pernah merasakan getaran gempa saat beraktivitas di Gunung Batu.
“Alhamdulillah, selama saya memanjat di Gunung Batu ini belum pernah merasakan getaran gempa secara langsung,” ujarnya.
Selain menjadi arena olahraga ekstrem, kawasan Tebing Gunung Batu juga memiliki nilai edukasi geologi yang tinggi karena memperlihatkan bentuk patahan aktif di permukaan bumi.
Kombinasi antara tantangan alam dan kesadaran terhadap potensi bencana membuat para pegiat panjat tebing menjalani aktivitas mereka dengan penuh kehati-hatian. (Bagus/MG)
