KoranMandala.com –Suasana Jalan Asia Afrika, Sabtu (16/8/2025), berubah menjadi ruang ekspresi sekelompok mahasiswa yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Kota Bandung.
Mereka berkumpul, berorasi, dan membentangkan spanduk untuk memperingati dua momentum yang dianggap penting: 63 tahun penandatanganan New York Agreement 1962 serta enam tahun peristiwa rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya.
Edi, salah seorang mahasiswa Papua yang turut dalam aksi, menyebut kegiatan ini lahir dari keresahan kolektif masyarakat Papua. Menurutnya, New York Agreement 1962 dinilai cacat sejarah karena memutuskan status politik Papua tanpa melibatkan rakyatnya.
Siap Kantongi Point Penuh Dari Jepara, Persib Bandung Bawa 22 Pemain
“Aksi ini adalah bentuk keresahan masyarakat Papua, bagaimana memperingati 63 tahun New York Agreement yang ilegal sekaligus memperingati enam tahun rasisme di Surabaya,” ujar Edi.
Tuntutan AMP
Dalam aksinya, AMP Bandung membawa 12 tuntutan, di antaranya:
-
memberikan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Papua,
-
menutup perusahaan tambang dan sawit yang beroperasi di Tanah Papua,
-
mencabut UU Cipta Kerja, Otonomi Khusus Papua, serta Daerah Otonomi Baru,
-
menarik militer dari Papua,
-
menghentikan praktik rasisme,
-
membuka akses jurnalis nasional maupun internasional di Papua,
-
membebaskan tahanan politik, serta
-
menuntaskan dugaan pelanggaran HAM yang dialami rakyat Papua.
Mereka juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meninjau ulang New York Agreement yang dinilai bermasalah.
Edi menegaskan, negara perlu bertanggung jawab atas kebijakan yang lahir dari perjanjian tersebut. “Negara harus bertanggung jawab karena mengambil keputusan tanpa melibatkan rakyat Papua, padahal isi perjanjian membicarakan status Papua,” tegasnya.
