KoranMandala.com – Di tengah sulitnya mencari pekerjaan tetap, Sugab (32), ayah dua anak asal Desa Galanggang, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memilih jalur kreatif untuk menghidupi keluarganya. Ia mendirikan Inku Studio, usaha sablon yang berlokasi di gang kecil dekat rumahnya.
Sugab bukan pendatang baru di dunia sablon. Perkenalannya dimulai pada 2011–2012 saat bergabung dengan komunitas Underground yang membawanya bertemu teman-teman di bidang tersebut.
Pada 2015, ia mulai bekerja di usaha sablon milik rekannya. Tujuh tahun kemudian, tepatnya 2022, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri yang ia beri nama Inku Studio.
ADVERTISEMENT
Usai Drawing Grup ACL Two 2025/2026, Persib Harapkan Dukungan Penuh Bobotoh di Stadion
“Sablon menyelamatkan hidup. Dunia Underground mengajarkan untuk mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Dengan sablon, kita punya skill pasif yang bisa dibawa ke mana-mana untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Inku Studio tidak besar, hanya memiliki ruang kerja dengan 12 meja sablon. Seluruh prosesnya masih dilakukan secara manual, mulai dari desain grafis hingga cetak saring.
Meski sederhana, hasilnya memuaskan pelanggan yang datang dari berbagai komunitas, panitia acara, hingga pelaku usaha brand lokal.
Menurut Sugab, sablon manual punya keunggulan dari segi kualitas, meski prosesnya memakan waktu lebih lama.
“Lebih bagus sablon manual, cuma prosesnya agak panjang,” katanya.
Pelanggan Inku Studio beragam, mulai dari karang taruna, komunitas, hingga pelaku usaha pakaian lokal. Bagi Sugab, setiap pesanan adalah kesempatan untuk menjaga reputasi sekaligus memperluas jaringan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






