Meski begitu, Farhan menegaskan pembangunan industri kreatif tidak boleh hanya berfokus pada digitalisasi atau kemasan futuristik. Ia menekankan pentingnya infrastruktur dasar dan lingkungan yang mendukung.
Salah satu persoalan yang disorot Farhan adalah banjir di kawasan timur Bandung, yang kini menjadi salah satu pusat industri kreatif baru.
ADVERTISEMENT
“Di sini masih ada masalah banjir, terutama di sekitar Derwati dan Cisaranten. Kami akan bekerja sama dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) untuk mengelola sungai-sungai tersebut agar tidak terjadi penggenangan,” tuturnya.
Selain persoalan lingkungan, Farhan juga menyoroti masalah aksesibilitas menuju kawasan industri kreatif tersebut.
“Selama ini akses ke kawasan ini macet. Kita harus permudah aksesnya. Walaupun tidak masuk APBD, kami sedang siapkan skema pendanaan melalui Land Based Finance (LBF),” katanya.
Skema LBF memungkinkan pemerintah menggunakan aset tanah sebagai jaminan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, tanpa membebani APBD.
“Pendanaan nanti bukan dari pemerintah, tapi dari pihak swasta yang terlibat. Kita ingin ciptakan ekosistem yang saling mendukung,” tandas Farhan.
Page: 1 2
KORAN MANDALA – Ratusan massa dari berbagai elemen mahasiswa, komunitas, dan warga menggelar aksi evaluasi…
KORAN MANDALA – Mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) memberikan rapor merah terhadap dua tahun kepemimpinan Presiden…
KORAN MANDALA –Kabar duka datang dari Qatar. Rasem binti Salim, pekerja migran asal Kampung Cibendasari,…
KORAN MANDALA – Ratusan massa gabungan mahasiswa, komunitas, dan warga bergerak menuju Simpang Lima, Kota…
KORAN MANDALA –Kursi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Purwakarta segera memasuki babak pergantian kepemimpinan. Anne…
KORAN MANDALA –Dugaan kekerasan seksual terhadap anak berusia 3 tahun di Kota Bandung menjadi sorotan…