Koran Mandala – Lonjakan kasus penyakit menular seperti demam berdarah dengue (DBD) mendorong Pemerintah Kota Bandung mencari terobosan. Salah satunya lewat program kolaboratif “3M Plus Mengoles” yang diluncurkan pada Rabu, 2 Juli 2025.
Program ini diklaim sebagai inovasi pengendalian DBD berbasis data dan edukasi masyarakat, dengan melibatkan kader Jumantik (juru pemantau jentik) serta sejumlah organisasi di tingkat kelurahan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, tak menutupi kenyataan bahwa Bandung tengah menghadapi darurat kesehatan lingkungan. Data Pemkot Bandung menunjukkan, kasus DBD, tuberkulosis (TBC), dan stunting masih tinggi.
Luciano Guaycochea Ungkap Rasa Senangnya Bisa Berseragam Persib Bandung
“Saya tidak bangga, tapi ini fakta. Kondisi sanitasi lingkungan kita memprihatinkan. Jadi, kolaborasi yang konkret seperti ini patut kita dorong,” kata Farhan saat peluncuran program di Kiara Artha Park.
Program ini menggandeng Enesis Group, produsen lotion antinyamuk Soffell, yang bakal menyasar tiga kecamatan dengan kasus DBD cukup tinggi: Buahbatu, Rancasari, dan Coblong.
Tak sekadar kampanye, program ini akan diuji secara langsung di lapangan.
“Ini bukan sekadar promosi produk. Mereka berani menguji dampaknya di masyarakat. Jika hasilnya positif, tentu bisa menjadi model nasional,” ucap Farhan.
Dalam pelaksanaan program, para kader Jumantik akan mengedukasi warga soal Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sambil mendorong penggunaan lotion antinyamuk sebagai pelengkap gerakan 3M.
Program ini juga akan terhubung dengan aplikasi Sempati, yang selama ini dipakai Pemkot Bandung untuk memantau kasus penyakit berbasis lingkungan. Meski demikian, Farhan menegaskan, kerja sama ini harus mematuhi regulasi perlindungan data pribadi.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






