Cayem (52), salah satu warga, mengatakan bahwa selama bertahun-tahun mereka harus membeli air dari luar desa dengan harga tinggi. “Air dari BPBD tidak pernah ada. Jadi ya setiap musim kemarau kami beli. Satu tong 1.000 liter itu Rp50 ribu, dan hanya cukup tiga hari,” ujarnya.
Janji Dedi Mulyadi yang sempat menjadi harapan baru bagi warga, kini justru menyisakan kekecewaan mendalam. Warga merasa ditinggalkan dan dijadikan objek pencitraan semata tanpa ada tindakan nyata. Sementara mereka tetap hidup dalam krisis, hanya beberapa kilometer dari kawasan industri modern yang tak pernah kekurangan air.
