ADVERTISEMENT
“Kami mempercepat karena ada instruksi langsung dari pimpinan dan dorongan masyarakat. Volume sampah di pasar ini sangat tinggi, dan selama ini terkendala oleh keterbatasan armada serta tidak adanya TPS yang memadai,” katanya.
Pernyataan ini justru semakin menyingkap kelemahan tata kelola kebersihan kota. Kota Bandung — yang selama ini mengklaim sebagai kota kreatif — nyatanya masih gagap menangani urusan mendasar seperti pengelolaan sampah di pasar tradisional.
Kepala Pasar Suci, Gan-Gan (48), menyebut inisiasi ini justru datang dari pedagang.
ADVERTISEMENT
Begini Kata Rezaldi Hehannusa Soal Gabungnya Sang Adik Ke Persib Bandung
“Alhamdulillah, pasar ini akhirnya lebih layak. Ini memang gerakan dari teman-teman pedagang. Selagi tujuannya positif, saya dukung,” ujarnya, seolah memberi sinyal bahwa inisiatif pembersihan bukan berasal dari struktur birokrasi, melainkan tekanan dari akar rumput.
Pantauan di lapangan pada Selasa (24/6), sekitar sepuluh truk dan dua alat berat dikerahkan secara bertahap untuk menyelesaikan pengangkutan. DLH pun berjanji menyusun jadwal rutin dan menambah fasilitas TPS.
Namun janji tinggal janji jika pengawasan dan komitmen pemerintah tidak berubah. DLH mengancam akan menjatuhkan sanksi tegas bila masih ditemukan TPS liar atau pembuangan sembarangan.
Sayangnya, ini bukan kali pertama ancaman seperti itu diumbar, dan bukan sekali ini pula publik kecewa karena janji-janji itu hanya menjadi retorika sesaat pasca-kunjungan pejabat.
Pasar Suci adalah gambaran kecil dari persoalan besar di Kota Bandung: birokrasi lamban, penanganan setengah hati, dan hanya bergerak jika tersorot kamera atau diburu kritik. Pertanyaannya, berapa pasar lagi yang menunggu kedatangan pejabat sebelum sampah mereka diangkut?(M. Sandi)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT





