ADVERTISEMENT
Koran Mandala – Sasaka Indonesia mendapat kehormatan menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Pelatihan Perencanaan Pembangunan Jembatan Gantung di Daerah Tertinggal yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), bekerja sama dengan Helvetas Swiss Intercooperation dan Inanta.
Kegiatan ini digelar secara hybrid pada 11–12 Juni 2025 di Gedung Utama Kemendes PDTT, Jakarta Selatan. Pelatihan mengangkat tema “Memperkuat Kapasitas Teknis dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembangunan Infrastruktur Jembatan Gantung yang Aman, Efisien, dan Berkelanjutan”.
Direktur Penyerasian Pembangunan Sarana dan Prasarana Kemendes PDTT sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Teguh Hadi Sulistiono, mengatakan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan dalam merancang pembangunan jembatan gantung yang tepat guna di wilayah tertinggal.
ADVERTISEMENT
PT KAI Diduga Salahgunakan Dana PMN, BPK Ungkap Kerugian Negara Ratusan Miliar
“Jembatan gantung memiliki peran strategis dalam membuka akses dan mendorong pemerataan pembangunan, terutama di daerah dengan kondisi geografis yang menantang. Namun, keterbatasan anggaran, minimnya pemahaman teknis di masyarakat, dan belum meratanya kapasitas lokal menjadi tantangan utama. Pelatihan ini menjadi langkah penting untuk membangun infrastruktur yang tidak hanya kokoh, tetapi juga partisipatif dan berkelanjutan,” ujar Teguh dalam sambutannya.
Direktur Eksekutif Sasaka Indonesia, Komaludin, hadir sebagai narasumber pada sesi pembukaan dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat Lokal dalam Pemenuhan Kebutuhan Jembatan Gantung di Desa”.
Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dalam membangun infrastruktur di wilayah terpencil.
“Jembatan bukan semata persoalan konstruksi, melainkan soal konektivitas manusia, pendidikan, kesehatan, dan masa depan. Masyarakat harus menjadi bagian utama dari solusi,” kata Komaludin.
Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas tak hanya efektif menghadapi keterbatasan geografis dan anggaran, tetapi juga memperkuat kapasitas sosial masyarakat desa.
“Setiap jembatan yang kami bangun menyimpan kisah gotong royong, transfer pengetahuan, dan tumbuhnya rasa kepemilikan warga. Bagi kami, jembatan adalah simbol kemandirian—jalan yang menghubungkan harapan dengan kenyataan,” ujarnya.
Resmi ! Ini Pembagian Grup Piala Presiden 2025, Persib Bandung Tergabung di Grup B
Selain Sasaka, pelatihan ini juga menghadirkan sejumlah pembicara dari dalam dan luar negeri, di antaranya Ansu Tumbahangfe (Director TRAC4Change by Helvetas), Gyanendra Rajbhandari (Chief Technical Coordinator TBSU Helvetas Nepal), Prof. Dr. Ing. Ir. Eugenius Pradipto (Guru Besar Teknik Arsitektur UGM), serta para ahli teknik dari Helvetas dan Inanta.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT





