ADVERTISEMENT
Koran Mandala – Suasana penuh kehangatan dan tawa menghiasi sebuah lapangan terbuka di Majalengka pada Jumat pagi, 6 Juni 2025. Warga berdatangan dengan penuh antusias—bukan hanya karena ingin mendapatkan daging qurban, tetapi juga karena penasaran dengan sosok yang disebut-sebut akan hadir membagikannya.
“Katanya Wakil Presiden mau datang,” ujar seorang ibu sambil tersenyum penasaran. Desas-desus itu rupanya berawal dari nama yang tertera di spanduk panitia: Gibran. Namun bukan Gibran Rakabuming, melainkan Gibran Maulana Suherman, tokoh muda lokal yang hari itu menjadi Ketua Pelaksana Qurban.
Meski sempat salah sangka, warga tetap bergembira. Sebab, esensi qurban bukan tentang siapa yang memberi, tapi makna berbagi yang menyertainya.
ADVERTISEMENT
Evaluasi FTA : Bahlil, Tito Karnavian, LBP dan Budi Arie Secepatnya Diganti, Gibran di Makzulkan
Sebanyak tiga ekor sapi disembelih dalam kegiatan ini, yang merupakan sumbangan dari sejumlah tokoh, antara lain Menteri PKP Maruarar Sirait, Wakil Bendahara Umum HIPMI Yoshua Sirait, serta Bupati dan Wakil Bupati Majalengka, Eman Suherman dan Dena Muhamad Ramdhan.
“Tahun ini kami sembelih tiga ekor sapi. Semuanya dari tokoh yang peduli pada masyarakat Majalengka,” kata Gibran.
Pemotongan hewan dilakukan dengan memperhatikan standar kebersihan dan syariat Islam. Daging qurban kemudian dibagikan secara merata kepada warga sekitar dan para relawan.
“Kita ingin kegiatan ini jadi momen solidaritas. Gotong royong itu ruhnya. Semua terlibat, semua merasakan,” ujar Gibran yang tampak sibuk namun tetap tersenyum.
Bupati Majalengka Eman Suherman pun hadir dan turut memberi pesan penting kepada panitia: pembagian daging harus adil dan merata.
“Yang hadir semua harus kebagian. Jangan ada yang pulang dengan tangan kosong,” tegasnya.
Di tengah tumpukan kantong plastik berisi daging, terdengar tawa anak-anak, obrolan hangat antarwarga, dan saling sapa para relawan. Di sinilah, makna qurban benar-benar terasa—bukan hanya sebagai ritual tahunan, tapi perayaan kebersamaan dan kepedulian yang menyatukan.
“Semoga semangat ini terus hidup. Tak hanya saat Idul Adha, tapi dalam kehidupan sosial kita sehari-hari,” harap Gibran.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






